Thursday, December 5, 2013

It may not be always "right"


Memasuki perkuliahan profesi, saya mendadak memiliki "kitab suci" tambahan. Orang-orang yang bergerak dalam ilmu psikologi dan psikiatri punya semacam 'kitab suci' berisi kriteria-kriteria gangguan mental yang dijadikan panduan dalam mendiagnosis gejala-gejala gangguan mental. Kitab suci itu adalaaah:


Kitab Suci para mahasiswa/ profesi Psikologi dan Psikiatri

Itu saya ambil gambarnya dari wikipedia. Makanya buku yang bagian bawah berbahasa latin macem telenovela.

Kitab itu bernama Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), yang diterbitkan oleh APA. Yang bawah itu edisi IV revisi, yang sekarang masih dijadikan acuan bagi para profesional. Sedangkan yang atas, biru, edisi terbaru dari DSM, namun kalau di Indonesia nampaknya belum dijadikan acuan. Di kampus saya hanya sebatas dipelajari dan dibandingkan dengan edisi sebelumnya, apakah ada perubahan dalam kriteria suatu gangguan mental atau tidak.

DSM V ini menuai kontroversi. Mulai dari tidak adanya psikolog yang dilibatkan dalam pembuatannya, sampel yang tidak representatif dalam pembuatan kriteria, dan banyak lagi sehingga validitas dan reliabilitas kriteria yang dicantumkan dipertanyakan. Sebelumnya DSM juga pernah menuai kontroversi ketika tidak lagi mengkategorikan homoseksualitas sebagai gangguan. Isu yang beredar, ada orang yang secara finansial kuat di belakang keputusan tersebut dan ia berasal dari golongan yang pro homoseksualitas.

Seorang dosen pernah berpesan agar kami, para mahasiswa jangan naif dan harus tetap kritis dengan penelitian-penelitian ilmiah yang ada. Terutama di bidang klinis, penelitian tentang obat-obatan tertentu untuk mengurangi gejala gangguan tertentu sangat banyak beredar. Beliau bilang kami harus lihat juga siapa yang melakukan penelitian dan donatur/ sponsor penelitian tersebut. Banyak penelitian tentang intervensi farmakologis (intervensi dengan obat-obatan, terutama untuk gangguan mental) yang disponsori oleh industri yang memproduksi obat-obat yang diteliti itu.
Hmmm. Nangkep kan maksud dosen saya? ;) Jangan naif bahwa politik juga bermain dalam bidang keilmuan. Begitu pesan dosen saya.
 Wew. Even a research which seems scientific may not be always "right"

Lantas, apakah sains, data ilmiah lantas tidak bisa dijadikan pegangan?
Nope. Bukan itu maksudnya. Menurut saya, jika kebenaran dalam menuntut ilmu adalah tujuan, maka sains adalah jalan terbaik untuk mendekati tujuan itu. Hanya saja kita perlu kritis menghadapinya dan itu perlu usaha lebih dari diri kita.
Allah, berikan saya kekuatan, kecerdasan dan hindarkan saya dari rasa malas menghadapi semua ini.

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by BloggerCandy.com