Saturday, December 3, 2011

Ibu, the most appreciative "job", setidaknya buat gw

"hmm.. mungkin perempuan akan lebih merasakan betapa susahnya jadi Ibu setelah mereka melahirkan nanti.."
sepenggal kalimat dari bokap, entah berapa tahun yang lalu.
yang jelas udah lama banget.
dan sekarang muncul di memori gw, demi melihat kakak gw mengasuh anaknya, keponakan gw yang lucu itu :)
Keponakan gw emang lagi lucu-lucunya, mau satu tahun 10 Desember nanti (wiih,bentar lagiii!)
Tapi, tetep aja, DIA BAYIIII (belum 1 Tahun masih bayi kan ya sebutannya?)

Bayi, yang kalo udah rewel, satu kelurahan bisa denger suara tangisannya

Bayi, yang kalo kita tidur, bisa aja dia terbangun, terus ngulik-ngulik idung dan narik bibir lo sehingga akhirnyaa memaksa lo untuk bangun padahal lo masiiih banget ngantuk.
*ini kejadian nyata, gw ngeliat si ponakan gw ini terbangun saat Ibunya (kakak gw) masih tidur. Sambil ketawa-ketawa, dia narik-narik tahi lalat kakak gw yg ada di idung dan dagu (emang ukurannya rada ajaib sih ya itu tahi lalat, versi mini dr cici paramida punya lah). Ga cuma itu, dia juga ngulik-ngulik idung dan narik-narik bibir kakak gw sambil cengar-cengir. Sumpah, mukanya tengil bgt waktu itu xD*

Bayi yang mendekati umur satu tahun, udah bisa merangkak dan merayap kesana kemari = BUTUH PENGAWASAN PENUH!!



Bayi yang bawaannya teriak-teriak mulu kalo keinginannya belum terpenuhi (makanya gw suka manggil ni anak, suheri = SUka HEboh sendiRI. wkwk).

In conclude, butuh stamina dan strategi yang matang untuk menjadi Ibu. Ya lo bayangin aja, ngurus suami, ngurus rumah, ngurusin anak yang emang sedang butuh pengawasan penuh. Lo harus punya strategi yg oke kan biar semuanya keurus, dan itu pastinya capek banget. Kadang gw juga ngeliat kakak gw kecapekan, dan ujung-ujungnya minta pijitin gua deh kalo udah ambruk -__- hahaha. gapapaaa, itung2 gua meringankan beban seorang Ibu o:)

Otomatis gw jadi membayangkan gimana susahnya nyokap gw membesarkan keempat anaknya ini. dan omongan bokap gw rasanya setengah benar deh, karna mulai sekarang pun gw  merasakan, jadi Ibu itu susah karena melihat kakak gw. Alhamdulillah untuk pengalaman ini ya Rabb :')

miris

Miris liat girl band d sctv pke kerudung tp joget2,
meliuk2 kan tubuh,lirik lagu yg seperti itu,
sorry to say, innalillahi wainnailaihi rojiun

*tweet seseorang*
Yap. gw pun sependapat.
entahlah. gw ga berhak men-judge baik-buruk memang.
tapi, gw ga nyaman ngeliatnya.
maaf ya

Because I Love You So Much :')

201111.20:30

I love you so much
But maybe you can’t see that because I couldn’t show it well

Hari ini gw nangiiis senangis-nangisnya

Kebiasaan, kalo udh mulai banyak stressor (tugas kuliah la la la la), dipicu sama kelakuan orang yang emang suka nyebelin, ditambah perasaan bersalah kepada orang yang disayangi, nangis adalah jalan satu-satunya melepaskan semuuua semua beban yang gw rasa.

Malam itu, sehabis magrib, gw melihat raut mukanya lelah.
Mungkin kurang tidur karena harus menunggui adik gw di rumah sakit selama 4 malem kemaren, mungkin juga karena harus bolak-balik ke rumah sakit mengurusi ini-itu, mungkin juga ada masalah-masalah lain yang ga gw ketahui, mungkin juga banyak hal yang dipikirkan.

Raut muka yang lelah itu, ada pada wajah nyokap gw :’(

Dan gw, sekarang ini, entah kenapa kepikiran malam itu. Saat pamitan ke Depok karena besok paginya harus jadi tester untuk anak SMA di Kalimalang (kalo dari Depok lebih cepat karena dekat stasiun kereta).
Baru kali itu gw menyadari bahwa muka nyokap bener2 keliatan capek.
Itu terbayang-bayang di benak gw saat ini.
Dan seperti biasa, penyesalan selalu datang belakangan.

Flashback.

Ya, kemarin itu emang banyak banget kerjaan. Waktu di rumah kebanyakan gw habiskan di depan komputer. Padahal waktu itu ada nyokap. Nyokap nonton tv. Gw sibuk sama komputer. Palingan gw sekedar menanggapi dengan datar ketika nyokap mencoba mengajak berinteraksi , karena memang gw sedang fokus dengan kerjaan di komputer.

Padahal kalo gw pikir-pikir, kapan lagi sih gw punya quality time kayak gitu kalo bukan saat gw di rumah?
Gw menyesali diri gw yang ga bisa memposisikan diri saat di rumah.
Padahal mungkin, gw seharusnya bisa sekedar mendengarkan keseharian nyokap, mungkin ada masalah atau keluhan atau apalah yang rasanya akan sedikit berkurang jika dikeluarkan dan didengarkan oleh lawan bicara dengan baik.

Tapi gw kemarin ga memanfatkan waktu di rumah dengan baik.

Bahkan, untuk sekedar menawarkan diri menggantikannya untuk menginap di RS, tidak gw lakukan karena gw merasa tugaaasss gw akan ga selesai kalo harus nginep di RS.
Egois? Iya, banget. Gw akui. Karena gw yakin, sebenarnya tugas cuma alasan untuk menghindar.

Sampai akhirnya gw melihat raut muka lelah itu ketika pamit mau ke Depok, (berangkat dari rumah jam 7), berkata pada gw, penuh kehawatiran:
”ais, emangnya rame jalan ke depok jam segini?”
”jangan naik angkot yang kosong yah”
Terus tadi, tiba-tiba ada sms:
“Is, pulang ga?” mamah
“engga mah, tadi dari Kalimalang langsung ke Depok” padahal pengen pulaaaang :’(
“oh.oce deh” mamah
Ah, entah kenapa selau cengeng kalo urusan yang satu ini.

Mom, i wanna go home and hold you soooooo tight :’’’(

Kamu selau menyempatkan diri untuk rapat ini-itu
Tapi untuk sekedar pergi ke rumah?
Kamu selalu tanggap setiap ada updated status twitter/ FB teman, langsung menanyakan ”kenapa kamu :)? ”
Tapi ke orangtua?
Saturday, November 5, 2011

test pack



Sebuah novel yang mengisahkan kehidupan rumah tangga Rahmat dan Tata. Tujuh tahun berumah tangga masih belum dikaruniai anak. Tata, yang sangat mengidamkan kehadiran bayi sudah mencoba berbagai cara. Akhirnya ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke ginekolog setelah sekian tahun menghindarinya karena takut mendengar hasilnya. Hasilnya? dia dinyatakan sehat. Rahimnya sehat kok, ga kurang suatu apapun. Ternyata masalah ada pada sang suami, Rahmat. Rahmat, suami yang sangat dicintainya itu, dinyatakan infertile. Konflik pun dimulai. Dan seterusnya (silahkan dibeli dan dibaca bukunyaa ;) )

Aaah, I think a lot after read that book
What if it is happened to me??
*naudzubillah kalo sampe infertile atau gimana, but who knows?*
Will you still love me?
Will you still wanna be my world?
Will you still be the one whom the face I see when I wake up in the morning?
*ciaelaaaaah! T-O-O M-U-C-H*
Begitu juga sebaliknya. Seriusan ya, ga kepikiran sama sekali, kalo tiba-tiba pasangan kita ternyata tidak seperti yang kita kenal sebelum menikah.
Orang yang gw taksir karena kepintarannya, selesai resepsi mendadak bodoh karena terbentur tembok saat kepeleset di kamar mandi.
*perumpamaan yang lebay mengerikan, aisyah. -__- *
Will I still love him?

Mengevaluasi pengalaman taksir menaksir gw, cukup sering kejadian yang begitu ada perilaku atau hal-hal yang menunjukan cela dari gebetan, then, I’m sorry goodbye darleeeng! Ilang seilang-ilangnya perasaan suka gw ke orang itu. Jahat, menuntut kesempurnaan tanpa bercermin diri. Tapi yaa, begitu kenyataannya.
*ckckck*

Novel ini mengingatkan pada gw, bahwa hal-hal yang tak kita harapkan dari pasangan itu mungkin banget terjadi dan baru kita ketahui setelah menikah. Kalau udah gitu, terus gimana dong? Minta cerai? Gampang beneer, seakan keputusan menikah segampang saat kita mau memutuskan untuk membeli bakso atau tidak, yang kalo udah membeli terus pas dicoba taunya ga enak bisa ditinggal begitu saja sang bakso beserta mangkoknya
*yee mangkoknya emang punya abangnya, is. Ga boleh dibawa pulang*
Eh kenapa gua menganalogikan dengan membeli bakso? Karena saat ini gua lagi ngidam bakso
*-__- abaikan*

Oke, back to the topic, bagaimana dengan menikah? Semudah itukah? Memutuskan untuk menikah aja kayaknya bukan perkara sehari dua hari deh. Separuh agama, boooi. Sayang sekali kalau harus begitu saja diakhiri hanya karena kita merasa pasangan tidak sesempurna yang kita harapkan. Novel ini menggambarkan dengan lugas dan konkrit sejauh mana komitmen dapat mempengaruhi suatu hubungan. Selama ini komitmen itu abstrak sekali bagi gw. Gw tau kita butuh komitmen dalam menjalin hubungan. Tapi aplikasi dalam berumahtangga itu loh, ga kebayang bentuknya kaya apa. Komitmen untuk mau bersama dengan pasangan, mengarungi bahtera kehidupan apapun yang terjadi.
*siksasik*

Karena, komitmen itulah yang bisa bikin suatu hubungan bertahan, membuat seseorang menyikapi kekurangan pasangan dengan bijak. Toh diri juga ga sempurna, ga berhak rasanya menuntut kesempurnaan yang rasanya tak mungkin juga dimiliki manusia.
Menikah bukan untuk mencari pasangan yang sempurna, tapi belajar untuk bisa mencintai pasangan dengan sempurna, someone said that.

Note: tentu aja menerima kekurangan ini bukan berarti mau diperlakukan kasar, menerima kekerasan dari pasangan. Absolutely, NO. Bukan hal-hal yang intolerate, seperti masalah agama dan kekerasan rumah tangga, yang kita bicarakan saat ini.

Yah, baiklah. Mari sama-sama belajar mendewasakan diri, mempersiapkan untuk berkomitmen.


*jadi lo udah mau nikah ya, is?*
Ya mau lah. I’m normal. Meskipun hal ini bukan menjadi prioritas untuk saat ini, ga apa kan mempersiapkan dari sekarang? ;)
“from now on, start loving someone,
because you want to….”

- Ninit Yunita dalam Test Pack-

*mendadak pengen ngupas abis triangle of love-nya Sternberg. I think his theory about love is worth to know. Attracted?;) *
Saturday, October 29, 2011

Saya prihatin.Lalu?

Ngomong2 soal pendidikan di Indonesia emang suka bikin kesal dan geram.
Yap,mulai dari birokrasi sampai kurikulum,semua kurang.semua ga adil.Bla bla bla.
Tapi toh realita nya seperti itu.
Kalo mau realistis,saya sebagai masyarakat biasa tentunya sulit mengubah sistem yang ada.
Perlu waktu dan usaha yang lebih untuk itu. Tapi bukan berarti tidak berbuat apa-apa juga. Tinggal liat sekeliling kita,perbaiki apa yang bisa kita perbaiki.
Sy jd ingat ayah saya yang tak segan menegur org yang buang sampah sembarangan, menyerobot antrian, dan hal-hal yang dianggapnya tidak pada tempatnya, tidak sesuai aturan.
Sudahkah? mari kita sama-sama memulai dan belajar. Sudah terbukti hanya berkata -saya prihatin- tidak menyelesaikan masalah bukan? :p
 

Blog Template by BloggerCandy.com