Thursday, May 23, 2013

Shaleh Sosial

Shaleh/ keshalehan sosial?
Terus terang saya baru mengetahui istilah itu sekitar setahun lalu dari tulisan Prof. Komaruddin Hidayat di harian Kompas : Keislaman Indonesia .
Keshalehan sosial menurut saya (merujuk pada bacaan di atas) merupakan suatu perpanjangan dari keshalehan individual, implementasi dari ibadah-ibadah ritual yang terwujud dalam perilaku sehari-hari, sifatnya selalu berhubungan dengan orang lain. Adapun keshalehan individual dapat dilihat dari kuantitas ibadah/ ritual keagamaan. Misalnya, alkisah hiduplah seseorang bernama A (bukan Aisyah Ibadi, bukaaan). A ini rajin sekali puasa Senin-Kamis, tetapi tiap datang ke walimahan temannya, A ngga bisa nahan diri untuk ga makan sebanyak mungkin yang dia bisa (hayoh ngaku yang suka begini! #mantul). Alhasil tiap ke walimahan orang, A suka kalap dan kekenyangan sendiri. Nah, si A ini secara keshalehan indvidual oke karena dia rajin puasa Senin-Kamis. Tapi keshalehan sosialnya kurang. Ibadah puasa yang hakikatnya melatih pengendalian diri (hawa nafsu) tidak diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan A.

Beberapa ada yang menyangsikan hasil penelitian yang dicantumkan di tulisan Prof Komaruddin. Tetapi saya rasa, kalau kita melihat keseharian umat muslim di sekitar, cukup klop dengan penelitian itu kan? :p Sama halnya dengan cerita ayah saya berikut ini. Sepulang ibadah haji kemarin, ayah saya bercerita bahwa suatu ketika menangis di Tanah Suci. Saya kira beliau menangis karena melihat Ka'bah atau Masjidil Haram seperti cerita yang umumnya saya dengar dari orang-orang yang beribadah di sana. Ternyata yang membuat ayah saya menangis adalah sampah-sampah yang berserakan bekas para jamaah. Ayah menangis karena sedih melihat umat Islam masih belum tertib, bahkan hanya untuk membuang sampah pada tempatnya pun "belum bisa". Di satu sisi (ya pada taulah kalo orang lagi ibadah haji kerjaannya shalat-doa-dzikir doang) mengejar predikat shaleh secara individu, tetapi shaleh sosialnya? Silahkan dijawab masing-masing :)

Kemarin saya membaca buku yang membahas tentang shalat. Dalam buku itu saya menemukan sebuah hadits yang konteksnya dalam keshalehan individual (shalat) tetapi ada pesan untuk shaleh sosial juga.
"Jika salah seorang kamu shalat, maka janganlah dia letakkan sandalnya di sebelah kanan, dan jangan pula di sebelah kiri, sehingga sandal itu ada di kanan orang lain, kecuali bila tidak ada siapapun di sebelah kirinya. Dan hendaklah dia letakkan sandalnya di antara kedua kakinya" (HR. Abu Daud)
"Apabila salah seorang kamu shalat, hendaklah dia shalat dengan sandalnya atau meletakkannya di antara kedua kakinya dan jangan mengganggu yang lain dengan sandalnya" (HR. Abu Daud)
Yang saya garisbawahi itu, menurut saya menunjukkan perintah agar kita 'shaleh sosial' dengan tidak mengganggu orang lain. Di situ juga terkandung aturan main yang paling utama untuk agar kita shaleh sosial: peka terhadap hak orang lain. Dengan peka terhadap hak orang lain, kita akan memikirkan baik-baik segala tindakan kita, apakah bermanfaat atau malah merugikan orang lain.
Jadi, masih mau cuma rajin ngaji dan hafal Qur'an? ;)

Wednesday, May 22, 2013

sendu sore ini

entah mengapa tangan ini tergerak membuka pesan-pesan lama.
dan kemudian tertegun menatap sederet percakapan
rasanya sedikit sesak di dada,
menyadari ada jarak yang semakin melebar
terpaksa menyetujui kekakuan yang entah darimana munculnya
sesal tidak pernah berguna, tapi toh tetap muncul tak bisa dicegah
kapan kita bisa bercakap lagi, kawan? :')
Tuesday, May 21, 2013

SaMaRa

Copas dari komennya Kak Ilyas Ramdhani di sebuah undangan pernikahan via FB.
Baguuuus :)


Sakinah : ketenangan, ketenteraman, kedamaian (hati) dalam berkeluarga.
Mawaddah : cinta, kasih sayang. Sinonimnya Mahabbah.
Wa : dan
Rahmah (dari Allaah SWT tentunya) : ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, rejeki ...

Arti lainnya :)
♥ SAKINAH, ialah ketika kita melihat kekurangan pasangan namun mampu menjaga lidah untuk tidak mencelanya.
♥ MAWADDAH, ialah ketika kita mengetahui kekurangan pasangan namun mampu memilih untuk menutup sebelah mata atas kekurangannya dan membuka mata yang lain untuk berfokus pada kelebihannya.
♥ Sedangkan RAHMAH itu ialah, ketika kita mampu menjadikan kekurangan pasangan sebagai ladang amal untuk diri kita.
Anw, seringkali yang dibahas itu adalah bahwa kita harus bisa menerima kekurangan pasangan. Jarang yang membahas bahwa menerima kelebihan pasangan pun sesuatu yang penting bagi kelangsungan suatu hubungan. Mungkin hal ini dikarenakan anggapan bahwa karena kelebihan si dia lah (aih, norak betul pakai kata "si dia") yang menyebabkan jatuh cinta sehingga penerimaan akan kelebihan pasangan tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi toh ada hal-hal menyangkut kelebihan ini yang mungkin luput terpikirkan atau baru disadari setelah menikah. Misalnya, si perempuan gelar akademisnya lebih tinggi atau jejaring sosialnya lebih luas daripada laki-laki. Kalau laki-laki tidak bisa menerima kelebihan perempuan tersebut mungkin saja jadi minder. Rasanya bukanlah suatu hubungan yang menyenangkan bila ada satu pihak yang merasa inferior. Ah ya, imho, menerima kelebihan pasangan juga berarti mendukung pasangan untuk bisa mengaktualisasi dirinya di bidang yang ia minati.
Sekian.

Tertanda,
Jomblowati #sumpahbukaniklan


Monday, May 20, 2013

ragu

seyakin-yakinnya hari kemarin
hari ini, mendadak sedikit ragu karena ucapan seseorang.

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya
 


Sunday, May 19, 2013

Hasilnya adalah....

Hari ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu: 19 Mei 2013, pengumuman seleksi profesi psikologi.
Daaaaaaaaaaan, inilah hasilnyaa :
Respon pertama: cengar-cengir plus garuk-garuk kepala.
Sedih  dan kecewa, tentu saja.
Tapi di luar dugaan, kiran saya bakalan nangis gitu mengingat kemarin cukup riweuh bela-belain ikut seleksi tahap II-nya. Ternyata engga. Cuma ga enak aja pas ngasihtau ke orangtua (biar gimana juga kan daftarnya pake duit ortu~)
Saya yakin ga ada yang sia-sia dari usaha yang kita lakukan (meski hasilnya ga sesuai harapan), efek baiknya pasti ada hanya saja belum terasa atau mungkin masih malu-malu memunculkan diri :p
Alhamdulillah masih ada rejeki dari hasil freelance kemarin-kemarin, jadiiii insya Allah akan nyoba lagi di gelombang dua! Whooooosah!
Terimakasih untuk yang mendoakan di gelombang 1 kemarin ya, tetap doakan saya karena saya akan tetap berusaha :) < nyuruh orang ngedoain seenaknya :p
 

Blog Template by BloggerCandy.com