Thursday, May 16, 2013

Dewasa-nya Anak-anak :)

Terdengar suara ribut di depan rumah.
Kusibakkan tirai kamarku, mengintip keluar.
Nampak anak-anak tetangga sedang berkumpul. Hmm, paling-paling bertengkar, batinku.
Aku kembali duduk di hadapan laptop.
Terdengar olehku, suara Ibu, berusaha menenangkan mereka
"Hayoo, kalau main tidak berantem-berantem ya"
"Aku engga!" terdengar suara anak lelaki
"Iya! Dia tuh!"
Lalu suara-suara lain menanggapi. Suasana semakin ribut.
"Sudah, sudah. Tidak boleh berantem. Anak baik mainnya tidak berantem", suara Ibu kembali terdengar.
"Iya, jangan berantem" kali ini terdengar suara anak perempuan.
Suasana lalu sedikit hening, hanya terdengar suara sapu lidi Ibuku menyentuh dedaunan dan halaman.
Tak lama terdengar suara anak laki-laki, sedikit tertahan "Ma..maafin aku ya..."
Aku tertegun, tanganku berhenti mengetik. Penasaran....
"Iya.." suara anak lain, perempuan, nampaknya menyambut permintaan maaf tadi.
Suasana hening sejenak, lalu suara Ibuku terdengar kembali "Nah, begitu kan baik namanya"
Suara anak-anak kembali terdengar, kali ini mereka tertawa dan bercanda.
"Kita main tak umpet aja yuk!"
"Ayooook!"
Voila! Semudah membalikkan telapak tangan, suasana yang tadinya tegang berganti ceria kembali :)
Nampaknya, orang dewasa perlu belajar memaafkan dari anak-anak, termasuk saya :))
Wednesday, May 15, 2013

Mamah, My Saviour :D

Jam 5.30, saya sudah rapih dan membawa dompet. Mau kemana sih, Ais?
Saya mau ke Pasar Kue Subuh dekat rumah, minta tolong adik untuk mengantar naik motor.
Hari ini akan ada penyuluhan ibu-ibu di Manggarai dan saya bertugas menyiapkan konsumsinya.
Cuuuss, saya dan adik menembus dinginnya udara pagi.
Beberapa kali sempet 'jantungan' gara-gara si adik nyalip seenak udel. Grrrr.
Setelah mendapatkan dua macam kue dalam dua kardus berukuran sedang, sayapun pulang.
Sepulangnya membeli kue, saya istirahat sejenak, menunggu toko plastik buka untuk membeli wadah kue dari mika. Hmm, habis ini nge-pack konsumsi, mandi terus berangkat ke Manggarai deh. Batin saya dalam hati, menyusun rencana hari ini.
Lalu, mamah keluar dari kamarnya, sudah rapih, siap berangkat mengajar ke sekolah.
A: "Mah, ada kue tuh, ais belinya lebih kok buat di sini (rumah)"
M: "Ah, insya Allah mau puasa hari ini"
A: (Diam sejenak) "Puasa? Kok puasa hari Jum'at gini?"
M: "Jum'at? Sekarang hari Kamis kalee~"
A: (freeze mode : On selama sepersekian detik) "HAAAAAAAAAAH? SEKARANG HARI KAMIS? BUKAN JUMAT??"
M: (ikutan panik) "Kamis! Jangan-jangan Ais salah hari? Kegiatannya hari apa sih??"
A: (menyadari kebodohan) "Jumat! Huauahahahahahahhahah. Salaaaah hareeee~"
M: (ikut tertawa) "Ampuuun. Dasar ih kamu mah. Terus ini kue isinya apa?" (menunjuk salah satu kardus)
A: (masih ketawa-ketiwi) "Risol"
M: "Yang ini?" (menunjuk kardus yang lain)
A: (tetep ketawa-ketiwi, mungkin saking korsletnya otak saya, jadi ketawa mulu) "Lapis pelangi. Hahahahaha."
M: (mikir) "Harus dihabiskan hari ini berarti, kalau besok udah ga enak"
A: (baru ngeh kalo kuenya banyak banget dan harus habis hari itu) "He? Gimana ini ngabisinnya? Bagiin ke siapa nih?" << baru menyadari dikepung kue-kue dalam kardus yang menuntut untuk segera dikonsumsi.
Kue-kue: "Habiskan! habiskan! habiskan!" 

Dan dengan cekatan mamah saya mengambil plastik dari dapur, membagikan kue-kue itu ke tetangga, dan menyiapkan bungkusan untuk dibagikan ke sekolah tempatnya mengajar dulu dan ke sekolah tempatnya mengajar sekarang (jarak kedua sekolah tidak terlalu jauh). Ya Allah, ngerasa tertolong banget oleh Mamahkuuuu~ Huhuhuhu. Ga kebayang deh kalau sepulang beli kue, Mamah udah berangkat ngajar, pasti saya bingung menghadapi kepungan kue-kue itu. Hampuuuun aisyee, pagi-pagi udah linglung! Alhamdulillah dikasih kesempatan buat bagi-bagi kue. Hahahaha.

Tuesday, May 14, 2013

Mampir ke Kandank Jurank #2 #End



Di KJD, anak-anak dididik untuk menjadi orang cerdas, bukan pintar. Apa bedanya? Kalo kata Om Gan, orang pintar itu untuk diri sendiri (kepintarannya), sedangkan orang cerdas tidak hanya pintar tapi juga menjadikan keberadaannya bermanfaat untuk orang lain. Ohiya, ketika saya tanya target yang harus dicapai/ penilaian untuk anak, Mbak Indah bilang di KJD anak-anak akan diajarkan sampai bisa. Jadi targetnya ya membuat anak yang tadinya kurang cakap menjadi cakap, yang tidak bisa menjadi bisa. Masalah banyaknya murid yang diajar tidak jadi masalah, toh nanti juga akan terseleksi secara alamiah. Hehehe. Yang kurang niat belajar pasti mundur teratur. Untuk ‘ujian’, biasanya anak-anak KJD diminta mengadakan konser, gabungan dari seluruh kelas. Konsernya bisa mingguan maupun di akhir tahun dan terbuka untuk umum. Menurut saya ini bagus banget untuk melatih anak mengonsep sebuah acara (konser) sekaligus melatih rasa percaya diri mereka dengan tampil di depan publik :)

Jangan Jual Kemiskinan!
Om Gan ini ga suka melihat lembaga-lembaga sosial yang memasang kata  “Yatim”, “Panti Asuhan”, dan sebagainya. Kata beliau itu termasuk menjual kemiskinan, dikesankan seolah mereka (lembaga-lembaga tsb) melarat dan itu bikin beliau malu. Beliau bilang kalaupun kita miskin harta, kita harus kaya jiwa. FYI, Om Gan dan KJD-nya ga pernah menyebar proposal minta dana/ sponsor sana-sini loh. Katanya, kalo mau minta ya langsung aja ke yang Maha Pemberi Rizki: Allah. Terus dana untuk operasional KJD darimana? Ya, pihak KJD tidak menolak jika ada yang datang dan memberikan bantuan. Selain itu, di area KJD ada fasilitas Outbond yang dikelola KJD dan halaman KJD yang sering disewa untuk penyelenggaraan kegiatan. Dari situlah pemasukannya. Dan omongan Om Gan ini bukannya tanpa bukti. Semua fasilitas yang ada di KJD merupakan pemberian orang-orang tanpa diminta. Lahan luas yang menjadi halaman KJD sekarang ini adalah tanah pemberian mertua Om Gan, bangunan museum dan kantor sumbangan dari PT Holcim, dsb. Makanya Om Gan sering bilang ke anak-anak didiknya bahwa semua yang ada di KJD adalah titipan Allah yang harus dijaga dengan baik. Ada sedikit cerita dari Mbak Indah yang menurut saya mencerminkan perilaku orang cerdas. Jadi, sebelum ada fasilitas outbond, ada tanah kosong tidak terpakai milik seorang warga di sekitar KJD. Alih-alih membeli tanah tersebut, Om Gan memutuskan untuk menyewa lahan tersebut untuk dijadikan lahan outbond supaya tidak hanya KJD yang mendapatkan pemasukan dari outbond, tapi juga warga tersebut. Cerdas kan? ;)

Quotes Doank
Jujur, image seorang Om Gan a.k.a Dik Doank yang terekam di kepala saya adalah seorang presenter acara olah raga yang humoris. Melihat dan mendengar beliau secara langsung, membuat saya harus menata ulang image beliau yang sudah terbentuk sebelumnya. Beliau tetap humoris, tetap terlihat suka bercanda dan ekspresif (waktu Farabi/ Om Dwiki manggung, Om Gan tanpa canggung joget-joget di depan. Menikmati alunan musik  yang emang ngundang buat gerak banget sih. Saya dan teman saya, Selfi, untungnya cukup bisa menahan diri, kecuali jempol kaki dan tangan. Heheheh). Seorang Om Gan, yang saya lihat waktu itu sangat filosofis dan kata-kata yang keluar dari beliau kalau boleh saya bilang: puitis religius. Sangat religius. Selalu berkaitan dengan Allah (FYI, beliau ini, selain kalau mau mulai kegiatan, sering mengajak audiens muslim untuk baca Al Fatihah, mendoakan orang lain. Sementara yang non-muslim berdoa sesuai keyakinan mereka). Setiap kali beliau mengutarakan pandangannya akan sesuatu, kata-katanya itu bikin saya mikir dan merenung. Memang ada beberapa yang saya kurang setuju, tapi secara keseluruhan kata-kata beliau cukup bagus untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa di antaranya yang sangat mengena di hati saya adalah:

"Kaya dan berkah itu berjalan beriringan, namun terpisah di persimpangan. Kaya banyak memiliki sedangkan berkah mungkin sedikit memiliki tapi bisa banyak berbagi”


“Hidup adalah proses, dan proses adalah perubahan, perubahan itulah yang menandakan kita hidup.. bila kita yang hidup takut akan perubahan, sesungguhnya kita sudah mati… atau kita tetap hidup, tetapi dalam kemiskinan jiwa dan hati.” *

“Kalau kamu melihat kaleng bekas di jalan dan menyadari bahwa kaleng itu akan membahayakan orang yang melewati jalan tersebut, lalu kamu mengambil kaleng itu dan menyingkirkannya dari jalan agar tidak membahayakan orang lain, itulah Agama. Jika kamu tidak sekedar menyingkirkan/ membuang kaleng itu dari jalan, tetapi kemudian memikirkan apakah kaleng itu kelak bisa dijadikan sesuatu yang bermanfaat (dan membuat manfaat dari kaleng itu), itulah Ihsan”

Yah, itulah ulasan saya mengenai Kandank Jurank Doank. Sangat menyenangkan dan dapat banyak pembelajaran dari sana. Terimakasih KJD, semoga kelak saya punya "museum" di rumah untuk memajang karya anak-anak, minimal anak saya sendiri lah. Wkwk. Hope I'll come back there! :)

ngobrol bareng Mbak Indah di Museum KJD
tim MC dan Mbak Indah :) yg cowok di bawah itu entah siapa :p (digetok Andy)
*) dikutip dari catatan teman saya, Andy di Membangun Indonesia lewat Mendidik Bangsa Pencipta . Menarik tulisannya loh, worth to read :)
Sunday, May 12, 2013

Mampir ke Kandank Jurank #1



Hari ini, saya bersama tim Manggarasi Cerdas Dreamdelion: Farah, Selfi, Eka dan Andy; berkunjung ke Kandank Jurank Doank. Kandank Jurank Doank (KJD) ini kalau saya simpulkan adalah sebuah komunitas seni yang merangkul (memfasilitasi) siapa saya yang ingin belajar kesenian tanpa dipungut biaya apapun. Kelas-kelas yang ada di KJD ini antara lain kelas Vocal, Violin, Percussion, Guitar dan Theatre. Ohiya, perintis KJD ini adalah Mas Dik Doank, yang ternyata di sana dipanggil Om Ganteng, jadi saya akan nyebut Om Gan aja yaa :p Awalnya beliau membentuk komunitas ini di Kemayoran karena dulu di situlah tempat tinggalnya. Lalu pindah ke daerah Sawah Lama, Ciputat, tempat yang sekarang ini kami kunjungi.

Sesampainya di sana, pandangan saya langsung tertuju ke gapura bernuansa pop art, berisikan kumpulan foto-foto legend Indonesia maupun Internasional: Nike Ardilla, Beatles, Benyamin, dan lainnya. Ah, saya yang memang senang sekali dengan karya-karya kreatif semacam itu, langsung antusias ingin menjelajah isi KJD. Benar saja, menurut saya, di KJD itu setiap jengkal bangunannya mencerminkan kreativitas manusia yang membuat saya tak hentinya mengucap “woow”, “waaah”, “iiih, keren”, dsb. Apalagi ketika kami memasuki Museum Kandank Jurank, tempat karya-karya Om Gan dan murid-muridnya dipajang, bikin ga bosen melihat dan mengagumi setiap karya yang dipajang di sana. Keren banget! :D
dari kiri-kanan: farah, selfi dan saya, berfoto di depan gapura
salah satu sudut Museum Doank :D

Kami disambut dengan ramah oleh tim KJD, termasuk oleh Om Gan. Kebetulan ketika kami berkunjung sedang ada festival jazz di KJD. Sambil menunggu check sound, diwakili oleh Ibu Ketua, Farah Mafaza, kami diminta memperkenalkan diri dan menjelaskan kegiatan dreamdelion kepada para hadirin. Kami juga ngobrol bareng dengan Mas Dwiki Darmawan, pencetus festival jazz, yang juga membawa anak didiknya sebagai pengisi acara, yaitu kelompok musik Farabi. Ngobrol-ngorolnya bukan sembarang ngobrol, tapi ngobrolin musik Jazz. Waduh, sebagai orang awam, saya agak ngeri ga bisa mengikuti obrolan ini sebenernya. Tapi Mas Dwiki dan Om Gan, serta seorang narasumber yang saya lupa namanya (maaf ya, Paaak! Pokoknya beliau suka terlibat di Java Jazz jadi kita sebut Pak JJ aja ya :p), menjelaskan dengan bahasa yang cukup ‘ramah’ sehingga mudah dimengerti. Yang menarik itu ketika Pak JJ menjelaskan asal usul musik Jazz dan Blues. Asalnya dari budak-budak negro yang sangat religius. Saking religiusnya, ketika mengalami penderitaan, mereka menumpahkannya dengan bunyi-bunyian berirama. Kenapa? Karena mereka takut jika mereka mengeluhkan penderitaan, mereka akan di-azab oleh Tuhan. Sebagai contoh, mereka kepanasan saat bekerja. Alih-alih mengucapkan “aduh, panas banget sih!”, mereka mengeluarkan irama-irama “yeeeiyeiyeee!” (contohnya agak kampung ya ini, wakakak) untuk menumpahkan emosi mereka karena cuaca panas. Hmm, kalo istilah psikologinya semacam katarsis gitu kali ya.
Tim Dreamdelion memperkenalkan diri



ngobrol bareng Om Gan dan Om Dwiki :D
Dari obrolan itu juga, saya menyimpulkan bahwa Jazz itu sendiri tidak melulu harus dikaitkan dengan musik. Jazz itu bermakna luas, yakni kebebasan dan keindahan. Dalam musik, musisi Jazz bebas menginterpretasi dan mengaransemen sebuah lagu tanpa terkungkung dalam lingkup chord tertentu, untuk menciptakan keindahan lain dari lagu itu sendiri. Jadi kalau saya simpulkan, ketika para musisi memainkan musik Jazz, mereka seperti berbicara lewat nada-nada yang mereka mainkan karena lewat nada itulah mereka mengekspresikan interpretasi mereka atas lagu itu. Paham ga? Ngga? Sama, saya juga ga paham :))
Selesai ngobrol-ngobrol asik, kami disuguhi permainan musik dari Farabi. Ini dia orang-orang keren itu.

Farabi

Mencetak Bangsa Pencipta dengan Menggambar
Selepas istirahat siang, kami berbincang-bincang dengan Mbak Indah, salah satu pengurus KJD. Kami mengajukan pertanyaan seputar kegiatan dan metode pengajaran KJD. Beliau mengatakan bahwa KJD bertujuan membentuk bangsa pencipta. Untuk mencapai hal itu, KJD meletakkan kegiatan gambar sebagai kegiatan pokok. Menurut Om Gan, melalui kegiatan menggambar daya cipta; kreativitas dan imajinasi diasah. Melalui kegiatan menggambar, pola berpikir ‘out of the box’ dibentuk. Om Gan sendiri yang turun langsung menjadi pengajar dalam kegiatan menggambar. Dalam menggambar mereka tidak diperkenankan untuk memakai penggaris ataupun penghapus. Tujuannya agar mereka tidak jadi orang yang peragu atau takut salah. Kalau ada garis/ coretan yang salah, mereka (murid-murid) harus memperbaiki kesalahan itu dengan melanjutkan garis/ coretan tersebut menjadi bagian gambar mereka. 

Cara mengajarkan gambar cukup menarik bagi saya. Om Gan biasanya memberikan instruksi dengan bercerita dan menyajikan objek nyata. Misalnya pertemuan kali ini bertema delman. Selain menyajikan delman sungguhan di hadapan anak-anak, Om Gan bernarasi, misalnya: “Coba kalian gambar delman impian. Delman ini kalau di air tidak tenggelam, kalau terjatuh dari atas tidak rusak..bla...bla..bla”. Jadi, selain ada objek nyata, Om Gan melalui narasi memberikan kriteria-kriteria ‘delman idaman’. Apakah anak akan menggambar delman yang bersayap karena mengikuti kriteria ‘kalau jatuh dari atas tidak rusak’, itu diserahkan pada imajinasi dan kreativitas anak. Objek nyata diberikan sebagai template dasar saja, penambahan ataupun modifikasi bentuk lagi-lagi diserahkan kepada murid-murid KJD. Contoh lain, murid-murid diberi gambar kaos polos kemudian mereka diminta mendesain kaos tersebut. Menurut keterangan dari Mbak Indah, pemberian template (objek nyata) dan kriteria itu penting agar anak tidak bingung dan untuk memancing ide-ide kreatif anak. Di awal kegiatan menggambar, mereka ditekankan untuk serius dalam melakukannya, sebab akan dipilih yang terbaik untuk dipajang di museum. Kepada murid-murid ditekankan bahwa yang tidak terpilih untuk dipajang bukan berarti karya mereka tidak baik, hanya saja itu tanda mereka harus lebih serius dalam mengerjakannya. Penekanan hasilnya pada keseriusan berproses, bukan pada kesempurnaan bentuk :)

to be continue , penulisnya udah ngantuk. hihihi


Thursday, May 9, 2013

Seandainya...

"Ah, manusia! Selalu tergiur oleh 'seandainya'. Seolah-olah dengan perkataan itu kita bisa membentuk dunia baru atau kehidupan lain yang sesuai dengan idaman masing-masing"
Muryati, dalam Jalan Bandungan - N.H. Dini

Berandai-andai itu seperti menyenangkan ya?
Padahal ngga kasih solusi apa-apa (hanya "seolah-olah")
dan seringkali hanya meninggalkan sesal atas keputusan yang telah diambil/ kejadian yang dihadapi.



Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu kerelaan (menerima segala hal) setelah ditetapkan..
 

Blog Template by BloggerCandy.com