#ngomong sama kaca mode: ON
Hmmm.
Saya agak terusik dengan kebiasaan kritik-mengkritik akhir-akhir ini.
Bukannya saya menolak kebebasan berpendapat. sama sekali bukan.
Hanya saja, kritikan-kritikan yang saya baca, saya dengar, baik dari tivi, koran,sampai status facebook, semuanya (maaf) tak lebih hanya sekedar hujatan dan celaan
Yaa, siapa sih yang tak 'panas' melihat tingkah polah pejabat -dari pejabat negara sampai pejabat kampus *ups!
Respon yang wajar sebenarnya.
Tapi, cuma sampai segitu saja?
Sekedar melampiaskan kekesalan (dibungkus sedemikian rupa seolah-olah kritikan kritis), menyalahkan ini-itu. Bilang goblok sana-sini.
Then, WHAT???
Hujatan dan celaan anda memperbaiki keadaankah?
Wohoho, kalau iya, seharusnya negeri ini sangatlah maju karena hujatan dan celaan bertebaran di media dan jejaring-jejaring sosial
Melihat cela lalu menghujat memang mudah, kawan.
Tapi itu tak memperbaiki keadaan, toh?
Negeri ini butuh lebih dari sekedar hujatan dan celaan
Negeri bermasalah ini butuh jalan keluar
Alangkah baiknya kita tak sekedar "mengkritisi" tapi juga memberi solusi =)
Sunday, August 29, 2010
Karena aku lebih suka dicintai olehNya =)

Bukannya sok suci,
Aku hanya ingin mendapatkan segala sesuatunya dengan sehalal-halalnya cara
Cara yang diridhoi olehNya
Aku hanya berusaha menjadi sebaik-baik perempuan di mataNya
Hanya ingin menjaga apa yang harus kujaga
Mempertahankannya hingga saat itu tiba
Memberikannya kepada orang yang dipilihkanNya untukku
Entah kapan
Tak tahu kepada siapa
Mungkin kamu, mungkin juga bukan
Bukannya tak suka,
Aku perempuan biasa
Aku suka dicintai
Tapi,,,
Aku lebih suka dicintai olehNya
Labels:
ini aku
Friday, August 27, 2010
jadi Penonton Bayaran
Kemarin, gw dan teman-teman kampus menjadi penonton bayaran sebuah acara talkshow di salah satu stasiun tv swasta di bilangan Kalibata. Menjadi penonton bayaran sudah menjadi cara yang sering dilakukan dalam rangka menggalang dana untuk acara-acara di kampus.
Dari pihak tv, kami diberitahu bahwa jam 10 sudah mulai syuting. Setengah jam, satu jam berlalu. Tapi syuting tak kunjung dimulai. Untungnya kami menunggu di dalam tenda ber-AC. Tapi tetep aja boseeen. Berbagai topic pembicaraan sudah dibahas sampai bibir kering dan pecah-pecah (lebay to the max? of course not, kami lagi puasa cuy). Berbagai gaya duduk udah dicoba, pindah sana-sini sampai akhirnya ngemper di bawah, curhat-curhatan ama si fika. Ya Allaaaaah, benar-benar ujian kesabaran di bulan ramadhan deh, jam 12 katanya syuting baru bisa dimulai. Udah mati gaya banget nungguin dua jam. Nasiiiib, berhubung kami butuh duit, yaa mau ga mau ya harus terima nasipp.
Pukul 12.05 syuting belum juga dimulai. Ah, daripada nunggu-nunggu ga jelas, gw sama fika bergegas ke masjid (untung di sebelah stasiunnya) untuk shalat zuhur.
Jam 12.30 kami baru mulai syuting. Akhirrrnyaaa. huhuhu. Gw dan fika duduk di tribun. Lucu juga ternyata, pengambilan gambar penonton di tribun dilakukan setelah syuting acara selesai. Jadi kami disuruh tersenyum lebar sambil terus tepuk tangan (lumayan pegel loh nyengir dan tepuk tangan selama beberapa saat). Terakhir, kami disuruh memasang tampang serius, seakan sedang menyimak sesuatu (waktu sesi ini, kami dikasi tayangan kisruh bola di Indonesia gitu). Jam setengah tiga, syuting satu episode acara selesai. Istirahat setengah jam, lalu mulai syuting lagi. Wuoooo…
Seperti yang gw duga, syuting episode kedua ngareeet. Jam 15.40an baru mulai. Tapi gw sangat bersyukur, karena dengan begitu shalat ashar ga keganggu :) Gw mikirin pembawa acaranya, sebelum zuhur udah di make up, kalo mau shalat gimana yah?? Kan agak susah tuh. Atau dia pake make up yang tahan air jadi kalau wudhu, make up nya ga rusak? Ga tau lah. Eh itu dugaan gw kalo pembawa acaranya muslim yah, gw gatau dia muslim apa engga. Kasian aja kalau muslim, pekerjaannya agak menyulitkan dia dalam beribadah kan. Ya Allah, semoga pekerjaanku dan (calon) suamiku, adalah salah satu jalan untuk lebih mengingat dan mengenalMu. Aamiin. Ngeri juga ya kalo dapet kerja yang ga mendukung untuk total dalam beribadah (misalnya kerja kita membuat shalatnya ngareet banget). Takutnya penghasilan kita jadi kurang berkah gitu. Wallahualam bishawab
15 menit sebelum magrib, akhirnya SYUTING SELESAAAAAAI. asiiik. Setelah berfoto bersama Bpk. Andi Mallarangeng (ganteng banget sumpah.ahahaha), kami pulang ke rumah masing-masing. Hadeeeh, capek juga loh jadi penonton bayaran, padahal kerjanya cuma duduk ama tepuk tangan doang -_-a
Dari pihak tv, kami diberitahu bahwa jam 10 sudah mulai syuting. Setengah jam, satu jam berlalu. Tapi syuting tak kunjung dimulai. Untungnya kami menunggu di dalam tenda ber-AC. Tapi tetep aja boseeen. Berbagai topic pembicaraan sudah dibahas sampai bibir kering dan pecah-pecah (lebay to the max? of course not, kami lagi puasa cuy). Berbagai gaya duduk udah dicoba, pindah sana-sini sampai akhirnya ngemper di bawah, curhat-curhatan ama si fika. Ya Allaaaaah, benar-benar ujian kesabaran di bulan ramadhan deh, jam 12 katanya syuting baru bisa dimulai. Udah mati gaya banget nungguin dua jam. Nasiiiib, berhubung kami butuh duit, yaa mau ga mau ya harus terima nasipp.
Pukul 12.05 syuting belum juga dimulai. Ah, daripada nunggu-nunggu ga jelas, gw sama fika bergegas ke masjid (untung di sebelah stasiunnya) untuk shalat zuhur.
Jam 12.30 kami baru mulai syuting. Akhirrrnyaaa. huhuhu. Gw dan fika duduk di tribun. Lucu juga ternyata, pengambilan gambar penonton di tribun dilakukan setelah syuting acara selesai. Jadi kami disuruh tersenyum lebar sambil terus tepuk tangan (lumayan pegel loh nyengir dan tepuk tangan selama beberapa saat). Terakhir, kami disuruh memasang tampang serius, seakan sedang menyimak sesuatu (waktu sesi ini, kami dikasi tayangan kisruh bola di Indonesia gitu). Jam setengah tiga, syuting satu episode acara selesai. Istirahat setengah jam, lalu mulai syuting lagi. Wuoooo…
Seperti yang gw duga, syuting episode kedua ngareeet. Jam 15.40an baru mulai. Tapi gw sangat bersyukur, karena dengan begitu shalat ashar ga keganggu :) Gw mikirin pembawa acaranya, sebelum zuhur udah di make up, kalo mau shalat gimana yah?? Kan agak susah tuh. Atau dia pake make up yang tahan air jadi kalau wudhu, make up nya ga rusak? Ga tau lah. Eh itu dugaan gw kalo pembawa acaranya muslim yah, gw gatau dia muslim apa engga. Kasian aja kalau muslim, pekerjaannya agak menyulitkan dia dalam beribadah kan. Ya Allah, semoga pekerjaanku dan (calon) suamiku, adalah salah satu jalan untuk lebih mengingat dan mengenalMu. Aamiin. Ngeri juga ya kalo dapet kerja yang ga mendukung untuk total dalam beribadah (misalnya kerja kita membuat shalatnya ngareet banget). Takutnya penghasilan kita jadi kurang berkah gitu. Wallahualam bishawab
15 menit sebelum magrib, akhirnya SYUTING SELESAAAAAAI. asiiik. Setelah berfoto bersama Bpk. Andi Mallarangeng (ganteng banget sumpah.ahahaha), kami pulang ke rumah masing-masing. Hadeeeh, capek juga loh jadi penonton bayaran, padahal kerjanya cuma duduk ama tepuk tangan doang -_-a
Labels:
ini aku
Tuesday, August 24, 2010
Shalat...shalat..
Sebejat-bejatnyanya seseorang, saya rasa ada masa dimana dia akan butuh Tuhan. Ada masa dimana seseorang merasa kosong, hampa, saat kehidupannya tidak tersentuh oleh agama, merasa “kering” saat dirinya tidak kunjung merasakan nikmat iman.
Dan nampaknya hal itu yang terjadi pada diri saya, mulai beberapa bulan lalu. Kosong. Hampa. Dosa-dosa kecil terus dilakukan tanpa mengusik nurani sedikitpun. Pembenaran kebiasaan, bukannya membiasakan yang benar, terus dilakukan. Makin jarang mengaji, solat malam apalagi. Banyak sekali alasan untuk menghindar dari usaha-usaha mengingatNya. Solat wajib sekedar rutinitas, secara kuantitas terpenuhi, tapi secara kualitas? Nanti dulu. Satu-satunya yang membuat solat wajib masih terus bertahan hanya rasa malu jika tidak bersyukur. Ya, bagi saya, solat wajib yang 5 waktu itu adalah salah satu bentuk terkecil dari rasa syukur seorang hamba kepada Allah. Tidak mengerjakan solat wajib sama artinya tidak tahu berterimakasih. Meskipun begitu, tetap saja, ‘kekosongan’ yang saya rasakan, dosa-dosa kecil yang sering saya lakukan, tidak hilang, tidak terhenti. Dan saya bingung harus mulai darimana untuk memperbaiki kondisi ini
Tak tahan dengan kondisi seperti itu, saya sms teman saya, menceritakan kondisi saya. Jawabannya simpel. Intinya ia menanyakan apakah solat saya sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasululullah atau tidak. Dia menambahkan solat yang baik dihasilkan dengan wudhu yang baik, yang sesuai tuntunan Rasulullah. Ia mengingatkan saya pada ayat berikut ini:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al Ankabut:45)
Logikanya, kalau kita rajin shalat tapi masih melakukan perbuatan dosa, pasti ada yang ga beres dengan shalat yang kita lakukan. Dan hal ini tentunya tak bisa dipisahkan dari wudhu yang kita lakukan sebelum shalat. Alhamdulillah sekali saya punya teman seperti dia :) Bahkan selama ini tak sebersit pun terlintas di benak saya untuk mencari tahu apakah ibadah solat (termasuk wudhu) yang saya jalani selama ini sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah? Padahal sering sekali hadist berikut ini saya baca:
Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR. Bukhari)
Allah, terimakasih untuk petunjukMu :) Dan entah mengapa, hadits berikut ini (yang di bold), tiba-tiba muncul dalam benak saya waktu itu:
“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.” (HR. Thabrani).
Hadits ini terngiang-ngiang terus di telinga saya. Sampai Allah menggerakkan saya menuju lemari buku papah saya, mencari-cari buku yang saya butuhkan di rak berisi buku-buku agama yang selama ini tak pernah menarik minat saya. Daaan saya menemukan buku ini:
Penulis: A. Hassan
Saya seneng banget. Meskipun buku itu udah lamaaaa banget (fyi, kertasnya sudah menguning dan bahasanya masih rada-rada jadul), bahasanya mudah dipahami, pokoknya enak dibaca. Yaa, tapi kayaknya saya butuh satu buku lagi deh, yang keluaran terkini untuk pelengkap. Alhamdulillah, Allah benar-benar memudahkan saya. Berawal dari iseng-iseng nanya temen, saya dapet buku yang saya inginkan (minjem maksudnya):
Penulis: Muhammad Nashiruddin Al-Abani
Waah, Alhamdulillah. Terimakasih banyak Allah untuk segala kemudahan ini :) Jadi semangat deh bacanya \(^.^)/
Semoga selepas Ramadhan ini, shalat saya menjadi lebih baik :)
*tinggal nyaritau tentang wudhu nih,udah ada sih di buku Pengajaran Shalat, tapi butuh pelengkap deh kayaknya. anyone?? ;)
Dan nampaknya hal itu yang terjadi pada diri saya, mulai beberapa bulan lalu. Kosong. Hampa. Dosa-dosa kecil terus dilakukan tanpa mengusik nurani sedikitpun. Pembenaran kebiasaan, bukannya membiasakan yang benar, terus dilakukan. Makin jarang mengaji, solat malam apalagi. Banyak sekali alasan untuk menghindar dari usaha-usaha mengingatNya. Solat wajib sekedar rutinitas, secara kuantitas terpenuhi, tapi secara kualitas? Nanti dulu. Satu-satunya yang membuat solat wajib masih terus bertahan hanya rasa malu jika tidak bersyukur. Ya, bagi saya, solat wajib yang 5 waktu itu adalah salah satu bentuk terkecil dari rasa syukur seorang hamba kepada Allah. Tidak mengerjakan solat wajib sama artinya tidak tahu berterimakasih. Meskipun begitu, tetap saja, ‘kekosongan’ yang saya rasakan, dosa-dosa kecil yang sering saya lakukan, tidak hilang, tidak terhenti. Dan saya bingung harus mulai darimana untuk memperbaiki kondisi ini
Tak tahan dengan kondisi seperti itu, saya sms teman saya, menceritakan kondisi saya. Jawabannya simpel. Intinya ia menanyakan apakah solat saya sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasululullah atau tidak. Dia menambahkan solat yang baik dihasilkan dengan wudhu yang baik, yang sesuai tuntunan Rasulullah. Ia mengingatkan saya pada ayat berikut ini:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al Ankabut:45)
Logikanya, kalau kita rajin shalat tapi masih melakukan perbuatan dosa, pasti ada yang ga beres dengan shalat yang kita lakukan. Dan hal ini tentunya tak bisa dipisahkan dari wudhu yang kita lakukan sebelum shalat. Alhamdulillah sekali saya punya teman seperti dia :) Bahkan selama ini tak sebersit pun terlintas di benak saya untuk mencari tahu apakah ibadah solat (termasuk wudhu) yang saya jalani selama ini sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah? Padahal sering sekali hadist berikut ini saya baca:
Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR. Bukhari)
Allah, terimakasih untuk petunjukMu :) Dan entah mengapa, hadits berikut ini (yang di bold), tiba-tiba muncul dalam benak saya waktu itu:
“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.” (HR. Thabrani).
Hadits ini terngiang-ngiang terus di telinga saya. Sampai Allah menggerakkan saya menuju lemari buku papah saya, mencari-cari buku yang saya butuhkan di rak berisi buku-buku agama yang selama ini tak pernah menarik minat saya. Daaan saya menemukan buku ini:
Penulis: A. HassanSaya seneng banget. Meskipun buku itu udah lamaaaa banget (fyi, kertasnya sudah menguning dan bahasanya masih rada-rada jadul), bahasanya mudah dipahami, pokoknya enak dibaca. Yaa, tapi kayaknya saya butuh satu buku lagi deh, yang keluaran terkini untuk pelengkap. Alhamdulillah, Allah benar-benar memudahkan saya. Berawal dari iseng-iseng nanya temen, saya dapet buku yang saya inginkan (minjem maksudnya):
Penulis: Muhammad Nashiruddin Al-AbaniWaah, Alhamdulillah. Terimakasih banyak Allah untuk segala kemudahan ini :) Jadi semangat deh bacanya \(^.^)/
Semoga selepas Ramadhan ini, shalat saya menjadi lebih baik :)
*tinggal nyaritau tentang wudhu nih,udah ada sih di buku Pengajaran Shalat, tapi butuh pelengkap deh kayaknya. anyone?? ;)
Labels:
ini aku
menghormati mereka yang tidak berpuasa
waduh,jiwa prokras saya kambuh nih.harusnya saat ini saya me-rekap hasil rapat psdm hari senin kemarin. Tapi saya lagi maleees (ampuun bu ketua). Yah daripada melamunkan hal-hal yang diinginkan (termasuk orang yang diinginkan*ahahaha*), mendingan nulis deh ya sambil menunggu kemauan untuk me-rekap hasil rapat…………..
Menghormati orang yang sedang berpuasa sudah sering terdengar, tapi kalau menghormati orang yang tidak berpuasa? Jarang sekali saya mendengar ‘ajaran’ seperti itu. Entah kenapa, tiba-tiba kepikiran hal ini. Oia, sebelumnya, yang saya maksud orang yang tidak berpuasa adalah umat agama lain yang tentunya tidak menjalankan puasa di bulan ramadhan ini.
Sering saya mendengar keluhan teman-teman yang berpuasa saat melihat teman-teman non-muslim makan/minum. Ga menghormati orang yang lagi puasa. Begitulah inti dari keluhan teman-teman saya itu. Ya, pada awalnya saya sempat juga mengeluh seperti itu. Tapi kemudian, saya pikir-pikir, ya udah sih, toh mereka memang berhak makan dan minum karena memang tidak diperintahkan berpuasa di bulan Ramadhan. Rasanya ga perlu kita minta "dihormati" dengan melarang orang makan/minum disaat kita sedang berpuasa. Malah, menurut saya, seharusnya kita tidak melarang mereka makan dan minum. Kalaupun mereka memilih untuk tidak makan minum di depan orang yang berpuasa,ya patut diapresiasi. Tapi kalo engga, ya gapapa.
Saya sering mendengar ada satu ormas Islam yang mengobrak-abrik warteg/ warung makan yang tetap buka di siang hari. Katanya mengganggu kekhusyu’an orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, tidak menghormati umat Islam, bla bla bla.Helloooo,kayaknya ga ada hubungan yang signifikan antara warteg buka sama kekhusyu’an puasaa. Liat deh saudara-saudara muslim yang tinggal di negara yang mayoritas non-muslim. Mereka tetap bisa berpuasa kan? Dan saya yakin godaannya jauuuuh lebih berat daripada di sini, di Negara yang mayoritas penduduknya muslim. Mereka yang non-muslim mau makan siang dimana kalo semua warung makan tutup semua? Bukankah Islam agama yang menjunjung toleransi umat beragama?
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (Q.S. Al-Kafirun:6)
Saya juga menyesalkan ‘tradisi’ salah satu fakultas di kampus yang menutup kantin fakultas selama bulan ramadhan (ga tau deh pas waktunya berbuka puasa, tu kantin dibuka apa engga). Yaaa, niatnya mungkin baik, supaya yang sedang berpuasa tidak tergoda untuk ‘berbuka di siang hari’. Tapi apa harus mengorbankan hak-hak mereka yang non-muslim untuk makan dan minum?? Maaf jika ada yang tersinggung. Saya hanya ingin keberadaan Islam bermanfaat dan memberikan ketentraman bagi semuanya, dan Islam sama sekali tidak menyulitkan pihak manapun karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Wallahualam .
Menghormati orang yang sedang berpuasa sudah sering terdengar, tapi kalau menghormati orang yang tidak berpuasa? Jarang sekali saya mendengar ‘ajaran’ seperti itu. Entah kenapa, tiba-tiba kepikiran hal ini. Oia, sebelumnya, yang saya maksud orang yang tidak berpuasa adalah umat agama lain yang tentunya tidak menjalankan puasa di bulan ramadhan ini.
Sering saya mendengar keluhan teman-teman yang berpuasa saat melihat teman-teman non-muslim makan/minum. Ga menghormati orang yang lagi puasa. Begitulah inti dari keluhan teman-teman saya itu. Ya, pada awalnya saya sempat juga mengeluh seperti itu. Tapi kemudian, saya pikir-pikir, ya udah sih, toh mereka memang berhak makan dan minum karena memang tidak diperintahkan berpuasa di bulan Ramadhan. Rasanya ga perlu kita minta "dihormati" dengan melarang orang makan/minum disaat kita sedang berpuasa. Malah, menurut saya, seharusnya kita tidak melarang mereka makan dan minum. Kalaupun mereka memilih untuk tidak makan minum di depan orang yang berpuasa,ya patut diapresiasi. Tapi kalo engga, ya gapapa.
Saya sering mendengar ada satu ormas Islam yang mengobrak-abrik warteg/ warung makan yang tetap buka di siang hari. Katanya mengganggu kekhusyu’an orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, tidak menghormati umat Islam, bla bla bla.Helloooo,kayaknya ga ada hubungan yang signifikan antara warteg buka sama kekhusyu’an puasaa. Liat deh saudara-saudara muslim yang tinggal di negara yang mayoritas non-muslim. Mereka tetap bisa berpuasa kan? Dan saya yakin godaannya jauuuuh lebih berat daripada di sini, di Negara yang mayoritas penduduknya muslim. Mereka yang non-muslim mau makan siang dimana kalo semua warung makan tutup semua? Bukankah Islam agama yang menjunjung toleransi umat beragama?
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (Q.S. Al-Kafirun:6)
Saya juga menyesalkan ‘tradisi’ salah satu fakultas di kampus yang menutup kantin fakultas selama bulan ramadhan (ga tau deh pas waktunya berbuka puasa, tu kantin dibuka apa engga). Yaaa, niatnya mungkin baik, supaya yang sedang berpuasa tidak tergoda untuk ‘berbuka di siang hari’. Tapi apa harus mengorbankan hak-hak mereka yang non-muslim untuk makan dan minum?? Maaf jika ada yang tersinggung. Saya hanya ingin keberadaan Islam bermanfaat dan memberikan ketentraman bagi semuanya, dan Islam sama sekali tidak menyulitkan pihak manapun karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Wallahualam .
Labels:
ini aku
Subscribe to:
Posts (Atom)