Kecewa.
Seberapa sering pernah kecewa, dikecewakan?
Entah mengapa beberapa hari ini saya memikirkan betapa mudahnya saya kecewa oleh hal-hal yang sebenarnya (mungkin) sepele bagi orang kebanyakan.
Saya ingat, dulu sekali pernah kecewa, sangat kecewa, ketika seorang teman baik, yang “menyalin” tugas saya, memberikan tugas saya kepada teman lain tanpa seijin saya. Saya bukannya keberatan tugas saya disalin oleh teman yang lain itu. Yang buat saya keberatan adalah tugas saya berpindah tangan tanpa seijin saya. Ketika saya meminta lembar tugas saya kepada si ‘teman baik’, ia sambil lalu dan dengan santainya mengatakan“Oh, ada di si X”. Sepele ya? Tapi toh yang tertanam dalam diri saya, apapun itu, seberapa dekatpun kita dengan seseorang, meminta ijin untuk mengakses, meminta hak/ kepunyaan orang lain aturannya ya minta ijin dulu.
Saya pernah kecewa, ketika seseorang yang di awal nampak alim dan intelek, suatu saat membicarakan kejelekan orang lain. Rasanya sayang sekali jika orang secerdas dia, harus ‘jatuh’ hanya karena hal yang sebenarnya bisa dihindari itu.
Dan banyak hal lagi sebenarnya yang membuat saya kecewa.
Dan apakah saya frustasi karena banyaknya kekecewaan yang saya alami dalam hidup saya?
Untungnya tidak. Sepertinya tidak, lebih tepatnya. Hahaha
Dulu sempat merasa marah dengan harapan-harapan saya tentang orang lain, tentang keadaan, yang tidak sesuai kenyataan. Namun suatu saat ada kejadian yang membuat saya sadar bahwa tidaklah bijak menetapkan standar tertentu, apalagi standar yang tinggi, terhadap orang lain.Tiada gading yang tak retak. Ada hal-hal yang harus kita pahami sebagai bagian dari kekhilafan sebagai manusia si tempatnya salah dan lupa, dan sayapun bukannya tidak pernah mengecewakan orang lain. Dari ceramah-ceramah agama yang saya dengar, berharap kepada selain Allah hanya akan membuat kita kecewa. Mungkin itu masalah saya, terlalu berharap banyak pada makhlukNya.
Meskipun begitu, sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, sampai sejauh mana kita harus memaklumi, menerima kekhilafan orang lain, apalagi jika itu terjadi secara terus menerus??
Thursday, December 5, 2013
Saturday, November 16, 2013
PM
Pengajar Muda.
Betapa inginnya saya mengemban amanah itu, dulu.
Perasaan saya campur aduk, tiap kali melihat linimasa tentang pengajar muda.
Dan seketika itu, bayangan akan proses seleksi tahap dua beberapa bulan lalu, berkelebat di pikiran.
Seperti kembali merasakan bagaimana kuatnya keinginan itu dulu
Menjadi pengajar muda adalah salah satu mimpi saya, dan saya harus berhenti memperjuangkannya ketika saya diterima sebagai mahasiswa Psikologi Profesi - Klinis Anak, sebuah mimpi lain dalam hidup saya.
Hidup ini pilihan, saya tahu itu secara teori. Namun ternyata sulit mewujudkannya dalam kehidupan sendiri.
Sifat manusiawi ini seringkali ingin semuanya tercapai, mengabaikan pengetahuan Sang Pencipta akan hambaNya. (Allah, maafkan).
Sekarang, saya dihadapkan pada akhir semester satu. Berusaha meraih ilmu semaksimal mungkin.
Allah, terimakasih untuk selalu menunjukkan hal-hal baik dalam hidup saya
"Kamu, selesai S2 bisa ikutan seleksi (pengajar muda) lagi kok", kata seorang teman yang baik hati.
Saya hanya tersenyum. Rasanya, ada mimpi lain yang ingin saya capai ;)
Friday, October 18, 2013
sedikit tentang beragama
"....'kafir' atau 'kufur' itu berasal dari kata 'kafara' yang artinya tertutup"
Aku diam, mendengarkan ayah. Selalu menarik bagiku jika ayah membahas pengertian kata seperti ini.
"Maksudnya 'tertutup' di sini adalah tertutup dari tanda-tanda kebesaran Allah, Nak. Seringkali orang-orang menyebut 'orang kafir' seolah mereka adalah penjahat"
Aku menganggukkan kepalaku. Ya, akupun merasakan hal yang sama. Mendengar kata 'orang kafir' asosiasi yang muncul adalah 'jahat' atau 'patut dijauhi'. Setidaknya pengalaman dan pengamatanku menunjukkan hal itu.
"Padahal, tidak ada yang lebih patut dikasihani daripada orang-orang yang tertutup mata, telinga dan hatinya dari Allah"
".........."
"Berlaku lembut lah, Nak, kepada mereka. Hidayah Allah itu bagaikan berlian. Ketika kau ingin memberikan berlian kepada seseorang dengan melemparkannya, orang yang dikenai berlian itu hanya akan merasa sakit. Ia tak menyadari maksud baikmu maupun hal bernilai yang ingin kau berikan, ia hanya tahu kau menyakitinya. Tentu akan berbeda jika kau memberikan berlian itu dengan cara yang pantas, terlebih jika disertai senyuman, bukan?"
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad,
melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107).
*terinspirasi dari obrolan singkat tentang arti kata 'kafir' bersama papa*
Sunday, October 6, 2013
ngekos (lagi)
Besok, 7 oktober 2013, saya akan memulai kehidupan sebagai mahasiswa yang ngekos (lagi).
rasanya beraaat banget ninggalin rumah.
ngebayangin mama ga ada temen ngobrol kalo papah belum pulang dari kantor.
atau biasanya kita berdua ngetawain kekonyolan si papah,
atau makan mie ayam bareng
atau ngerujak bareng. eh engga sih, cuma saya aja, soalnya perut mama sensitif dengan rasa asam dan pedas. jadi biasanya cuma ngeliatin aja atau colek-colek dikit kalo ga tahan :p
daaaan akan kangen shalat subuh berjamaah sama mama-papa, then we have small talk after dzikr, talk about everything :")
ah, saya akan kangen sekali pastinya.
:")
rasanya beraaat banget ninggalin rumah.
ngebayangin mama ga ada temen ngobrol kalo papah belum pulang dari kantor.
atau biasanya kita berdua ngetawain kekonyolan si papah,
atau makan mie ayam bareng
atau ngerujak bareng. eh engga sih, cuma saya aja, soalnya perut mama sensitif dengan rasa asam dan pedas. jadi biasanya cuma ngeliatin aja atau colek-colek dikit kalo ga tahan :p
daaaan akan kangen shalat subuh berjamaah sama mama-papa, then we have small talk after dzikr, talk about everything :")
ah, saya akan kangen sekali pastinya.
:")
Friday, October 4, 2013
sudah saatnya
"ada kalanya kita harus berhenti dan merelakan, gak perlu terlalu ngoyo untuk tahu apa, kenapa dan ada apa"
iya, meskipun proses pemberhentian ini cukup sulit, tapi toh sudah saatnya
*lambai-lambai tangan ke kamera*
#loh
Subscribe to:
Posts (Atom)