Wednesday, February 13, 2013

Orang Kaya

Seseorang belum bisa dianggap kaya jika dia belum memiliki apa yang tidak bisa dibeli dengan uang
Dewi Perssik di satu acara infotainment

mantep juga nih. haha

When Twitter is not Fun Anymore...

Saya termasuk baru di jejaring socmed yang bernama twitter. Yaa, kira-kira 3-4 tahun lalu lah menggunakan twitter. Eh itu udah lama juga sih ya. Hahaha. Maksudnya kalau dibandingkan dengan teman-teman sepermainan, saya termasuk yang telat bikin akun twitter gitu.
Meski terbilang baru, ada perubahan yang saya rasakan dari awal penggunaan twitter, sampai saat ini.
Semakin ke sini, rasanya semakin banyak yang menggunakan twitter untuk berdebat. Ga tanggung-tanggung, debat soal agama juga! Beh. Semua orang bebas berpendapat, toh? Betul. Tapi rasanya, untuk hal-hal yang memang banyak diperdebatkan/ mengundang perdebatan, tidak cukup diungkap dalam 140 karakter.
Khawatir, pembaca yang awam akan topik yang diangkat, menjadi salah pemahaman.
Ya bayangin aja, misalnya soal agama. Apa ga gawat ada orang yang salah memahami agama hanya karena gagal paham dengan apa yang kita ungkap di twitter? Hiiii. Naudzubillah.

Ada lagi twit war, sebutan untuk mereka yang saling serang di twitter. Saling sindir tanpa menyebut orang yang dimaksud. Nah ini nih, nyindir siapa-siapa yang kesindir, berlaku banget :p
Belum lagi akun-akun anonim yang kian menjamur seperti panu. Awalnya excited membaca tweet mereka yang seolaaah menyingkap tabir segala kejadian di negeri ini. #tsaah
Tapi lama kelamaan, makin banyak akun anonim dan isinya makin subjektif bin provokatif. Saya sendiri sekarang menghindari membaca tweet akun-akun anonim itu. Selain menurut saya ga baik untuk pikiran saya (karena jadinya berprasangka mulu), bagi saya akun-akun anonim itu....gimana ya, seperti lempar batu sembunyi tangan. Ngomong macam-macam, tapi tidak menunjukkan identitas sebenarnya. Rasanya ucapan-ucapannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi ada aja ya yang nanggepin dan mendewakan info dari si anonim ini. Banyak malah.

Haaah. Sekian keluhan saya soal dunia twitter akhir-akhir ini. Saya kangen masa-masa timeline diisi dengan foto-foto makanan, kegalauan labil nan kocak, atau sekedar mengabarkan keadaan sekitar dan...keadaan dirinya (baca: curcol! Haha).
Mungkin ada keluh dan kesah saat itu, tapi masih dalam batas wajar menurut saya. Dan, dulu rasanya yang faking good, pencitraan, atau apalah di twitter ga se-memuakkan seperti sekarang ini deh :p :p

By the way, ini ada quote favorite dari penulis favorit:
Does twitter really reflect our personality? Or is it just another mask we put on to face the world?
Indra Herlambang dalam Kicau Kacau
Monday, February 11, 2013

Gombal tajwid

Dikasih link sama temen, salah satu postingan di kaskus yang isinya kalimat-kalimat gombalan dengan menggunakan hukum tajwid! x))
Salah satunya:
Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba2 semua itu seperti Idgham mutamaatsilain.. melebur jadi satu u,U
Tapi kalo yang ga tau hukum-hukum tajwid emang ga ngerti sih. Hahaha. Makanya yuk dibuka lagi buku tahsinnya :p
Langsung cek TKP aja lah, gaan: GOMBAL TAJWID
Selamats ngakaks! X))

Eniwei, gara-gara ini gue jadi buka-buka buku tajwid. Terus dari temen dapet istilah bacaan Naql, apakah itu? Googling sanah! Males amat sih :p
Friday, February 8, 2013

for my dear

Sekarangpun, masih tertatih rasanya memahami pikiran-tingkah laku-kebiasaanmu yang ajaib itu.
yang berbeda dari kami, yang lebih dewasa darimu.
tapi saya yakin, sangat yakin, dan benar-benar yakin, kamu anak baik :)
maafkan untuk kecerewetan dan segala omelan.
yang tentu membuatmu jenuh.
Sederhana saja,
hanya ingin agar kamu tidak terjerumus bahaya
hanya ingin melihat kamu sukses menggapai asa dan cita.
tumbuh mendewasa
bijaksana bersikap
bahkan terhadap diri sendiri sekalipun.

Sunday, February 3, 2013

Dear Ukhti (Myself)

Alhamdulillah. Saya menemukan tulisan ini dari akun @MuslimahOrId. 
Link aslinya bisa klik di sini . Saya copas yaa.



Akhowat Genit
Oleh Kang Aswad


Akhowat; sebutan akrab untuk para wanita muslim. Akhowat secara bahasa arab artinya saudara perempuan. Namun sudah ma’lum (diketahui) bahwa ’saudara’ yang dimaksud disini adalah saudara seiman, sama-sama muslim. Hal ini bukan tak berdasar, karena nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain” (HR. Muslim, no. 2564).
Namun memang sebagian orang menggunakan istilah akhowat untuk makna yang lebih sempit. Ada yang menggunakan istilah akhowat khusus untuk para muslimah yang aktifis dakwah, yang bukan aktifis dakwah bukan akhowat. Ada juga menggunakan istilah akhowat khusus untuk para muslimah yang berjilbab lebar, yang berjilbab pendek bukan akhowat. Ada yang lebih parah lagi, istilah akhowat hanya diperuntukkan bagi muslimah yang satu ‘aliran’, yang beda aliran bukan akhowat. Tentu saya lebih setuju makna yang umum, bahwa setiap muslimah yang mentauhidkan Allah, adalah akhowat. Namun yang lebih dikenal banyak orang, akhowat adalah para muslimah aktifis dakwah yang biasanya berjilbab lebar. Dan makna ini yang kita pakai didalam tulisan saya ini.
Demi Allah. Sungguh anggunnya para muslimah dengan hijab syar’inya, melambai diterpa angin, memancarkan cahaya indah dari sebuah keimanan yang mantap. Ya, ke-istiqomah-an seorang muslimah untuk menjaga auratnya dengan jilbab yang syar’i adalah cermin keimanannya, setidaknya dalam hal berpakaian. Sungguh beruntung mereka yang telah menyadari bahwa Allah telah memerintahkan para muslimah untuk berhijab syar’i, dan sungguh tidak akan Allah memerintahkan sesuatu kepada hambanya kecuali itu adalah sebuah kebaikan.
Namun sayang sungguh sayang. Sebagian akhowat yang berhijab syar’i belum menyadari esensi dari hijab yang dipakainya, yaitu untuk menjaga dirinya dari fitnah syahwat. Sebagian dari mereka hanya mengganngap hijab syar’i hanya sekedar tuntutan berpakaian dari syari’at, atau ada pula yang hanya menganggapnya sebagai tuntutan mode, supaya terlihat anggun, terlihat cantik, keibuan, dll. Wa’iyyadzubillah. Akhirnya ditemukanlah tipe muslimah yang saya sebut akhowat genit, yaitu mereka (muslimah) yang sudah berhijab syar’i, jilbab lebar, namun tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Mereka tidak menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah (kerusakan;bencana) yang ditimbulkan dari pergaulan laki-laki dan wanita yang melanggar batas-batas syariat. Padahal seharusnya merekalah (para akhowat) yang mendakwahkan bagaimana cara bergaul yang syar’i.
Mungkin saja para akhowat genit ini belum tahu tentang tuntunan Islam dalam bergaul dengan lawan jenis. Ketahuilah, memang Allah Ta’ala telah mewajibkan ummat muslim berbuat baik dalam segala hal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu” (HR. Muslim)
Dan memang benar bahwa Allah telah memerintahkan hamba-Nya mempererat persaudaraan, ukhuwah sesama muslim, bersikap santun, sopan, banyak memuji. Namun perlu diperhatikan, hal-hal baik tersebut akan berbeda hukum dan akibatnya jika diterapkan kepada lawan jenis. Berkata manis, santun, mendayu-dayu, itu baik. Namun bila diterapkan kepada lawan jenis, bisa berbahaya. Menanyakan kabar kepada seorang kawan, itu baik. Namun bila sang kawan itu lawan jenis, bisa berbahaya. Sering memberi nasehat-nasehat kepada seorang kawan, itu baik. Namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Senyum dan menyapa saat berpapasan dengan kawan, itu baik. Namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya:
“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menundukkan pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya” (QS. An-Nur : 24)
Berbuat baik memang diperintahkan, namun Allah juga memerintahkan untuk menjaga pandangan dan pergaulan terhadap lawan jenis. Maka janganlah mencampurkan hal-hal baik dengan hal yang dilarang.
Ciri-ciri akhowat genit:
Berpakaian yang mengundang pandangan
Ia memakai jilbab, gamis, namun lilbab dan busana muslimah yang digunakanya dibuat sedemikian rupa agar menggoda pandangan para ikhwan. Warna yang mencolok, renda-renda, atau aksesoris lain yang membuat para pria jadi terpancing untuk memandang.
Senang dilihat
Akhowat genit, senang sekali bila banyak dilihat oleh para ikhwan. Maka ia pun sering tampil di depan umum, sering mencari-cari perhatian para ikhwan, sering membuat sensasi-sensasi yang memancing perhatian para ikhwan dan suka berjalan melewati jalan yang terdapat para ikhwan berkumpul.
Kata-kata mesra yang ‘Islami’
Seringkali para akhowat genit melontarkan ‘kata-kata mesra’ kepada para ikhwan. Tentu saja kata-kata mesra mereka berbeda dengan gayanya orang berpacaran, namun mereka menggunakan gaya bahasa ‘Islami’. “Jazakalloh yach akhi”
“Akh, antum bisa saja dech”
“Pak, jangan sampai telat makan lho, sesungguhnya Alloh menyukai hamba-Nya yang qowi”
“Kaifa haluka akhi, minta tausiah dunks…”
“Akh, besok syuro jam 9, jangan mpe telat lhoo..”
SMS tidak penting
Biasanya para akhowat genit banyak beraksi lewat SMS. Karena aman, tidak ketahuan orang lain, bisa langsung dihapus. Ia sering SMS tidak penting, menanyakan kabar, mengecek shalat malam sang ikhwan, mengecek shaum sunnah, atau SMS hanya untuk mengatakan “Afwan…” atau “Jazakalloh”
Banyak bercanda
Akhowat genit banyak bercanda dengan para ikhwan. Mereka pun saling tertawa tanpa takut terkena fitnah hati. Betapa banyak fitnah hati, VMJ, yang hanya berawal dari sebuah canda-mencandai.
Tidak khawatir berikhtilat
Ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindari khalwat dan ikhtilat. Namun seharusnya saat berada pada kondisi tersebut seorang mu’min yang takut kepada Allah sepatutnya memiliki rasa khawatir berlama-lama di dalamnya. Bukan malah enjoy dan menikmatinya. Demikian si akhowat genit. Saat terjadi ihktilat akhowat genit tidak khawatir. Bukannya ingin cepat-cepat keluar dari kondisi tersebut, akhowat genit malah menikmatinya, berlama-lama, dan malah bercanda-ria dengan pada ikhwan laki-laki di sana.
Berbicara dengan nada mendayu
Maksudnya berbicara dengan intonasi kata yang bernada, mendayu, atau agak mendesah, atau dengan gaya agak kekanak-kanakan, atau dengan gaya manja, semua gaya bicara seperti ini dapat menimbulkan ‘bekas’ pada hati laki-laki yang mendengarnya. Dan ketahuilah wahai muslimah, hal ini dilarang oleh syariat. Allah Jalla Jalaluhu berfirman yang artinya:
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)
Para ulama meng-qiyaskan ‘merendahkan suara’ untuk semua gaya bicara yang juga dapat menimbulkan penyakit hati pada lelaki yang mendengarnya.
Maka mari sama-sama kita perbaiki diri. Kita tata lagi pergaulan kita dengan lawan jenis. Karena inilah yang telah diperintahkan oleh syariat. Dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu kebaikan. Dan tidaklah Allah melarang sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu keburukan. Dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah mewasiatkan kepada ummatnya bahwa fitnah (cobaan) terbesar bagi kaum laki-laki adalah cobaan syahwat, yaitu yang berasal dari wanita:
”Tidaklah ada fitnah sepeninggalanku yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki selain fitnah wanita. Dan sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita.” (HR. Muslim)
*Gimana, ukht? Banyak yang bikin #jleb ga? Hehehe.Terutama buat saya, di bagian "banyak bercanda". Maklum, turunan keluarga lawak*  
Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua :)

 

Blog Template by BloggerCandy.com