Ngomong2 soal pendidikan di Indonesia emang suka bikin kesal dan geram.
Yap,mulai dari birokrasi sampai kurikulum,semua kurang.semua ga adil.Bla bla bla.
Tapi toh realita nya seperti itu.
Kalo mau realistis,saya sebagai masyarakat biasa tentunya sulit mengubah sistem yang ada.
Perlu waktu dan usaha yang lebih untuk itu. Tapi bukan berarti tidak berbuat apa-apa juga. Tinggal liat sekeliling kita,perbaiki apa yang bisa kita perbaiki.
Sy jd ingat ayah saya yang tak segan menegur org yang buang sampah sembarangan, menyerobot antrian, dan hal-hal yang dianggapnya tidak pada tempatnya, tidak sesuai aturan.
Sudahkah? mari kita sama-sama memulai dan belajar. Sudah terbukti hanya berkata -saya prihatin- tidak menyelesaikan masalah bukan? :p
Saturday, October 29, 2011
Sunday, September 25, 2011
Ketakutan
Rabu, 210911 05:18
Harusnya saya baca buku penlit kualitatif buat kuliah nanti siang. Tapi, ada satu hal yang mengganggu. Berawal dari pembicaraan seminggu yang lalu, di kelas Psikologi Pemberian Bantuan (biasa disebut Helper). Waktu itu dosen matkul tsb meminta kami menuliskan hal-hal yang ingin kami pelajari dari mata kuliah tsb. Salah seorang teman di kelompok, sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya), bilang “Saya pengen deh mempelajari konseling untuk keluarga kita sendiri” Begitu kira-kira ujarnya, saya sendiri lupa kalimat persisnya kayak gimana. Dia bilang begitu karena salah seorang dosen pernah bilang (kira-kira begini):
“Psikolog itu ga bisa “dipakai” untuk keluarganya sendiri, karena saat memberikan “nasihat”, keluarga melihat dia bukan sebagai psikolog. Akan tetapi melihat dia ya sebagai anak (kalau dari sudut pandang ortu), kakak, adik, dsb. Ada bias yang cukup besar sehingga menyebabkan konseling (atau “nasihat” lah ya kalau bahasa awamnya) yang diberikan psikolog itu kurang “sampai” maknanya kepada keluarganya”.
Kata teman saya juga, dosen itu selalu merujuk keluarganya yang bermasalah ke teman-temannya yang juga psikolog (tidak dia tangani sendiri). Cetarrr!! Apa yang menjadi ketakutan saya selama ini nampaknya terbukti benar. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dimintai tolong oleh orangtua untuk “membereskan” adik saya yang sedang bandel-bandelnya (adik saya remaja, kelas 2 SMA). Waktu itu saya pun merasa kesulitan, merasa tidak didengarkan, merasa tidak berguna sama sekali sebagai mahasiswi psikologi. Saya, yang begitu lancar menganalisa kasus-kasus yang saya temui baik itu di ujian maupun tugas lapangan, merasa tak berdaya saat kasus itu datangnya dari keluarga dekat.
Menyedihkan? Ya, sangat menyedihkan. Saya sempat sedih lamaa, bahkan perasaan menyesakkan itu masih tersisa sampai sekarang. Dan beberapa saat yang lalu pernyataan teman saya tadi seakan memperkuat ketakutan saya itu. Terlebih lagi, ada cerita-cerita sedih seputar keluarga psikolog. Saya sih baru dengar dari dua keluarga, tapi toh itu cukup membuat saya sangaaat miris dan takut. Yang pertama, diceritakan oleh teman saya, sebuah keluarga pasangan psikolog, punya sekolah pula. Tapi anak-anak mereka mengalami masalah dalam hubungan sosialnya. Dari anak pertamanya (temannya teman saya yang cerita sama saya), keluarlah keluhan bahwa orangtuanya dianggap tidak dapat memahami perasaan dia. Orangtuanya menuntut ia dan adik-adiknya untuk tampil “perfect” dihadapan klien-kliennya, bahkan dalam hal pakaian pun diatur. Ia merasa tidak pernah didengarkan. Selalu menjadi pihak yang bersalah. Sungguh, kisah ini menjadi peringatan keras bagi saya kelak saat menjadi orangtua. Ada juga teman saya yang ibunya psikolog, tapi dia sendiri merasa kehilangan ibunya. Ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Duh, mendengar cerita-cerita itu, mau nangiiiiis banget. Kok bisa sih, seorang psikolog yang seharusnya memahami kebutuhan manusia (terutama anaknya, karena dia belajar perkembangan manusia), bisa “khilaf” sedemikian rupa bahkan menimbulkan “penderitaan” bagi anaknya itu, anak kandungnya? Saya takut. Takut terjebak dalam kondisi yang menyebabkan saya menuntut “kesempurnaan” dari keluarga saya nantinya. Beban sebagai mahasiswa psikologi sudah saya rasakan sekarang, dimana orang-orang menganggap kami bisa “membaca” orang lah, tahu segala-galanya tentang perilaku manusia, dsb dsb. Apalagi kalau saya sudah menjadi psikolog, akankah masyarakat sekitar memberikan standar tertentu dan saya terbawa-bawa nantinya?
Naudzubillah :’(
“Allah, ingatkan aku bahwa aku bercita-cita menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak dan menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Bimbing aku untuk menjadi manusia yang bermanfaat, terutama untuk keluargaku”
Labels:
ini aku
Monday, August 29, 2011
(#randomthings ) PIDT* @ Bandung : Hello! – Count me in! – Sayonara!
*PIDT = Pesantren Itikaf Daarut Tahiid
#Hello!
“Welcome to Daarut Tauhiid again, Aisyah Ibadeeeh!” adalah kalimat pertama yang saya teriakan dalam hati saat melihat mesjid DT. Aaaah, I miss atmosphere here, sooo much! Adem lahir batin :)
Di DAMRI menuju DT, saya bareng sama seorang akhwat. Terus saya naek becak bareng. Eh dibayarin pulak. Alhamdulillaaah. Nuhun teh, semoga dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda :D
Pada awalnya saya luntang-lantung ga jelas setibanya di DT, karena saat mau daftar ga ada anak DKM yang bisa “merespon” kedatangan saya. Jadi agak bingung harus kemana dan mau apa. Yaudah deh, mondar-mandir aja di tempat akhwat. Banyak berubah ya masjidnya, soalnya terakhir kali ke DT pas Sanlat SMP, sekitar tahun 2003 (Oh my, sekarang saya sudah tua -__- sudah kuliah semester 7). Untung muncul teh Rini yang lemah-lembut dan ramah (salah satu hal yg bikin saya suka sama DT, teteh-tetehnya begini nih modelnya :D) menemani saya ke Muslimah Center. Ada kegiatan yang sedang berlangsung di sana. Alhamdulillah :)
Di deket Muslimah Center ada GDA’s Gallery, butik punya teh Ghaida, putri Aa Gym. Setau saya dia emang suka desain baju gitu. Pengen masuk dan liat-liat, tapi ga berani soalnya ga bawa duit lebih. Hihi.
#Count me in!
Yak. Di Daarut Tauhiid ini cukup banyak keluarga muda (pastinya pasangan ikhwan-akhwat gitu deh :p) yang itikaf. Aiiih, romantis-religius (kalo emang ada istilah kaya gini ye) bangeet. Oenjoe. So sweet. dsb.dsb. Anak-anaknya juga lucu-lucu banget, pengen bungkus trus bawa pulang. Nyehehehe *grin evil* Dan saya pun bercita-cita --> dapet suami yang bisa diajak/ ngajak itikaf bareeeng :D :D
Ngeliat beberapa ikhwan yang dengerin ceramah sambil ngasuh anak. Seneng deh kalo udah liat cowok ngegendong/ngasuh anak kecil, aura ke-bapak-annya itu loh. Rrrawr! (apasih is) Sama senengnya kalo liat anak cowok nemenin nyokapnya belanja :D
Ngeliat teh Ghaida langsung, cantiiik banget. Putih bersih. Putrinya juga cantik dan lucuu, gembil :D
Heiyaa. Ternyata ada beberapa peserta itikaf yang pengen nyari jodoh di DT, nyari jodoh anu sholeh ceunah :D Usianya sekitar 3-7 tahun di atas saya lah. Lucu deh melihat “kelabilan” dewasa muda yang pengen menunaikan tugas perkembangannya (nikah), apalagi saat ada peserta lain yang seumuran ibu saya menasehati dan menceritakan pengalamannya seputar jodoh. Saya sih nyimak ajah (padahal ngarep dicariin.hahaha.ngga deng). Semoga ketemu dan berjodoh dgn ikhwan yg diharapkan ya, teh ;)
Kenapa ya,tiap ada di daerah dingin seperti di Bandung dan di rumah nenek saya (Wanayasa), muka saya nampak lebih cantik. Bhahahaha. Ga berminyak, ga keringetan, ga merah karena kepanasan, pori-pori terlihat lebih kecil, pokoknya mempesona deh *najongs*
Ke Bandung pas bulan puasa itu ga enaaak. Gabisa jajan banyak #nangisdipojokan #ngacai
Nemuin cemilan enak di SMM (Mini Market yang dikelola DT) --> bakso stick! Pedes gurih bikin nagiiih :9 MSG? Lupakan sajaaa! Huahahaha. Saya juga nyobain BasReng a.k.a bakso goreng yang bikin mow mow lagi di DT. Yummy!!
Saya menemukan ustad yang ciamik bangeet. Recommended! :D
Pertama, Ust. Hilman Rosyad. Kajiannya waktu itu seputar zakat cukup mencerahkan bagi saya. Doakan yah supaya saya berkesempatan menuliskan kajian zakat dari beliau :D Ranking-nya No.2 setelah Aa Gym lah. Ahiw!
Kedua, Ust. Amri. Sumpaaaah, lucunya kebangetan ini ustad. Lucunya ga “seaneh” kayak ustad-ustad yang bertebaran sekarang ini. Ceramahnya lucu, nyinyir, menyentil namun cerdas. Cara beliau membawakan materi nya itu loh, ga bikin bosen apalagi ngantuk. Rangkingnya? Setara sama Aa Gym! Bedanya, kalo Ustad ini unggul dalam memotivasi, kalo Aa ya unggul dalam menyentuh qolbu. Ahiwiwiw!
#Sayonara!
Perasaan saya campur aduk saat ingin meninggalkan DT. Senang karena akan bertemu keluarga di Wanayasa. Sedih karena selama di DT saya merasakan ketenangan batin dan merasa enggan menghadapi “realita” di luar sana yang tentunya banyak menimbulkan pergolakan dalam diri saya (aih, bahasanyaaa -__-). Yah, toh hidup adalah dinamika. Kalo stabil terus sih, ga hidup namanya. Ya kan? ;)
Sekitar 20 menit nungguin DAMRI Ledeng-Lw.Panjang, lalu naik dengan selamat. Sesaat setelah duduk, baru nyadar kalo ke rumah nenek di Wanayasa dari Geger Kalong teh lebih deket lewat Lembang (yang artinya ga usah nungguin DAMRI, gausah nyebrang jugaaaa serta dapat ditjapai dalam tempo sesingkat-singkatnja). YAUDAH SIH YAA. Males banget turun lalu nyebrang lagi :’( itung-itung ngabuburitt. Alhamdulillah yaa, “sesuatu”. #syahrini mode: ON
Dalam perjalanan menuju Purwakarta
@ Bus Primajasa Bandung-Cikarang, ga sengaja nyimak pembicaraan antara ayah-anak. Suara anaknya imut-imut sih, jadi menarik perhatian saya. Mereka duduk di belakang saya, jadi saya ga bisa lihat mereka
Anak: “Ayaah, mau beli ituu” (waktu itu ada pedagang asongan, yg saya lupa jual apaan)
Ayah: “Jangan yah, ga cukup uangnya. Nanti ga sampai rumah.”
*suara anak hilang. Ga ada respon. Tumben anak kecil ga ngerengek-rengek. Entah kenapa saya agak sedih mendengar jawaban si Ayah :’( Cengeng memang.
Beberapa jam kemudian, terdengar si Ayah menerima telepon, entah dari siapa.
Anak: (nampaknya berusaha ikut pembicaraan antara ayahnya dengan seseorang di telepon itu) “Beliin sepedaa!”
Ayah: “Iya. Nanti”
Anak: “Beliin!”
Ayah: “Iya, nanti yah belinya sama kamunya. Kan nanti harus cocok besarnya sama kamu, sadelnya, tingginya”
Anak: “Pengen yang tinggi siga nu di tipi-tipi”
Ayah: “iya iya..”
*dari suaranya, terdengar ke-bapak-an banget si ayah ini waktu berbicara sama anaknya. Terus terenyuh lagi deh hati saya. Susah memang kalo melankolis.*
Yaps. Sekian #randomthings PIDT-nya. Saya kesana sendirian. Tanpa teman, keluarga atau orang yang dikenal. Saya memang butuh sendiri. Dan ga selamanya sendirian itu menyedihkan (ya, mungkin terlihat menyedihkan bagi beberapa orang). Saya menikmati kesendirian saya itu. Saya selalu senang menceburkan diri di lingkungan dimana tak ada satupun orang yang kita kenal, bepergian sendiri di tempat yang “medan” belum dikuasai. Nyasar karena kemampuan spasial saya tiarap minta ampun, namun itu hal yang menyenangkan buat saya :D
Sayonara, Daarut Tauhiid Bandung! “Sesuatu” banget deh, alhamdulillah yaa :D :D
#Hello!
“Welcome to Daarut Tauhiid again, Aisyah Ibadeeeh!” adalah kalimat pertama yang saya teriakan dalam hati saat melihat mesjid DT. Aaaah, I miss atmosphere here, sooo much! Adem lahir batin :)
Di DAMRI menuju DT, saya bareng sama seorang akhwat. Terus saya naek becak bareng. Eh dibayarin pulak. Alhamdulillaaah. Nuhun teh, semoga dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda :D
Pada awalnya saya luntang-lantung ga jelas setibanya di DT, karena saat mau daftar ga ada anak DKM yang bisa “merespon” kedatangan saya. Jadi agak bingung harus kemana dan mau apa. Yaudah deh, mondar-mandir aja di tempat akhwat. Banyak berubah ya masjidnya, soalnya terakhir kali ke DT pas Sanlat SMP, sekitar tahun 2003 (Oh my, sekarang saya sudah tua -__- sudah kuliah semester 7). Untung muncul teh Rini yang lemah-lembut dan ramah (salah satu hal yg bikin saya suka sama DT, teteh-tetehnya begini nih modelnya :D) menemani saya ke Muslimah Center. Ada kegiatan yang sedang berlangsung di sana. Alhamdulillah :)
Di deket Muslimah Center ada GDA’s Gallery, butik punya teh Ghaida, putri Aa Gym. Setau saya dia emang suka desain baju gitu. Pengen masuk dan liat-liat, tapi ga berani soalnya ga bawa duit lebih. Hihi.
#Count me in!
Yak. Di Daarut Tauhiid ini cukup banyak keluarga muda (pastinya pasangan ikhwan-akhwat gitu deh :p) yang itikaf. Aiiih, romantis-religius (kalo emang ada istilah kaya gini ye) bangeet. Oenjoe. So sweet. dsb.dsb. Anak-anaknya juga lucu-lucu banget, pengen bungkus trus bawa pulang. Nyehehehe *grin evil* Dan saya pun bercita-cita --> dapet suami yang bisa diajak/ ngajak itikaf bareeeng :D :D
Ngeliat beberapa ikhwan yang dengerin ceramah sambil ngasuh anak. Seneng deh kalo udah liat cowok ngegendong/ngasuh anak kecil, aura ke-bapak-annya itu loh. Rrrawr! (apasih is) Sama senengnya kalo liat anak cowok nemenin nyokapnya belanja :D
Ngeliat teh Ghaida langsung, cantiiik banget. Putih bersih. Putrinya juga cantik dan lucuu, gembil :D
Heiyaa. Ternyata ada beberapa peserta itikaf yang pengen nyari jodoh di DT, nyari jodoh anu sholeh ceunah :D Usianya sekitar 3-7 tahun di atas saya lah. Lucu deh melihat “kelabilan” dewasa muda yang pengen menunaikan tugas perkembangannya (nikah), apalagi saat ada peserta lain yang seumuran ibu saya menasehati dan menceritakan pengalamannya seputar jodoh. Saya sih nyimak ajah (padahal ngarep dicariin.hahaha.ngga deng). Semoga ketemu dan berjodoh dgn ikhwan yg diharapkan ya, teh ;)
Kenapa ya,tiap ada di daerah dingin seperti di Bandung dan di rumah nenek saya (Wanayasa), muka saya nampak lebih cantik. Bhahahaha. Ga berminyak, ga keringetan, ga merah karena kepanasan, pori-pori terlihat lebih kecil, pokoknya mempesona deh *najongs*
Ke Bandung pas bulan puasa itu ga enaaak. Gabisa jajan banyak #nangisdipojokan #ngacai
Nemuin cemilan enak di SMM (Mini Market yang dikelola DT) --> bakso stick! Pedes gurih bikin nagiiih :9 MSG? Lupakan sajaaa! Huahahaha. Saya juga nyobain BasReng a.k.a bakso goreng yang bikin mow mow lagi di DT. Yummy!!
Saya menemukan ustad yang ciamik bangeet. Recommended! :D
Pertama, Ust. Hilman Rosyad. Kajiannya waktu itu seputar zakat cukup mencerahkan bagi saya. Doakan yah supaya saya berkesempatan menuliskan kajian zakat dari beliau :D Ranking-nya No.2 setelah Aa Gym lah. Ahiw!
Kedua, Ust. Amri. Sumpaaaah, lucunya kebangetan ini ustad. Lucunya ga “seaneh” kayak ustad-ustad yang bertebaran sekarang ini. Ceramahnya lucu, nyinyir, menyentil namun cerdas. Cara beliau membawakan materi nya itu loh, ga bikin bosen apalagi ngantuk. Rangkingnya? Setara sama Aa Gym! Bedanya, kalo Ustad ini unggul dalam memotivasi, kalo Aa ya unggul dalam menyentuh qolbu. Ahiwiwiw!
#Sayonara!
Perasaan saya campur aduk saat ingin meninggalkan DT. Senang karena akan bertemu keluarga di Wanayasa. Sedih karena selama di DT saya merasakan ketenangan batin dan merasa enggan menghadapi “realita” di luar sana yang tentunya banyak menimbulkan pergolakan dalam diri saya (aih, bahasanyaaa -__-). Yah, toh hidup adalah dinamika. Kalo stabil terus sih, ga hidup namanya. Ya kan? ;)
Sekitar 20 menit nungguin DAMRI Ledeng-Lw.Panjang, lalu naik dengan selamat. Sesaat setelah duduk, baru nyadar kalo ke rumah nenek di Wanayasa dari Geger Kalong teh lebih deket lewat Lembang (yang artinya ga usah nungguin DAMRI, gausah nyebrang jugaaaa serta dapat ditjapai dalam tempo sesingkat-singkatnja). YAUDAH SIH YAA. Males banget turun lalu nyebrang lagi :’( itung-itung ngabuburitt. Alhamdulillah yaa, “sesuatu”. #syahrini mode: ON
Dalam perjalanan menuju Purwakarta
@ Bus Primajasa Bandung-Cikarang, ga sengaja nyimak pembicaraan antara ayah-anak. Suara anaknya imut-imut sih, jadi menarik perhatian saya. Mereka duduk di belakang saya, jadi saya ga bisa lihat mereka
Anak: “Ayaah, mau beli ituu” (waktu itu ada pedagang asongan, yg saya lupa jual apaan)
Ayah: “Jangan yah, ga cukup uangnya. Nanti ga sampai rumah.”
*suara anak hilang. Ga ada respon. Tumben anak kecil ga ngerengek-rengek. Entah kenapa saya agak sedih mendengar jawaban si Ayah :’( Cengeng memang.
Beberapa jam kemudian, terdengar si Ayah menerima telepon, entah dari siapa.
Anak: (nampaknya berusaha ikut pembicaraan antara ayahnya dengan seseorang di telepon itu) “Beliin sepedaa!”
Ayah: “Iya. Nanti”
Anak: “Beliin!”
Ayah: “Iya, nanti yah belinya sama kamunya. Kan nanti harus cocok besarnya sama kamu, sadelnya, tingginya”
Anak: “Pengen yang tinggi siga nu di tipi-tipi”
Ayah: “iya iya..”
*dari suaranya, terdengar ke-bapak-an banget si ayah ini waktu berbicara sama anaknya. Terus terenyuh lagi deh hati saya. Susah memang kalo melankolis.*
Yaps. Sekian #randomthings PIDT-nya. Saya kesana sendirian. Tanpa teman, keluarga atau orang yang dikenal. Saya memang butuh sendiri. Dan ga selamanya sendirian itu menyedihkan (ya, mungkin terlihat menyedihkan bagi beberapa orang). Saya menikmati kesendirian saya itu. Saya selalu senang menceburkan diri di lingkungan dimana tak ada satupun orang yang kita kenal, bepergian sendiri di tempat yang “medan” belum dikuasai. Nyasar karena kemampuan spasial saya tiarap minta ampun, namun itu hal yang menyenangkan buat saya :D
Sayonara, Daarut Tauhiid Bandung! “Sesuatu” banget deh, alhamdulillah yaa :D :D
Labels:
ini aku
Friday, August 26, 2011
Lupa
ini udah lama kesimpen di draft.
baru di publish sekarang.
nyeheheh
entah kenapa, kemarin saat perjalanan menuju daarut tauhiid, Bandung, mata saya berkaca-kaca saat mendengar lagu Persembahan Cinta yg dinyanyikan Gradasi. Saya jg gatau kenapa. Tapi mendalami liriknya, rasanya maluu sekali. Malu karena tiap jatuh cinta pada lawan jenis, sepertinya saya tidak mengikutsertakan Allah di dalamnya. Padahal kan,kalo boleh dibilang, Dia-lah sumber cinta yg muncul dalam diri manusia, yg memegang hati manusia, yg memfitrahi manusia dg perasaan yg berjuta rasanya itu.
Hmm, terlalu sibuk dengan manusia-nya, sampai lupa bahwa ada yang menguasai manusia lebih dari segalanya :')
Gradasi - Persembahan Cinta
Disaat cinta menyemai rasa di jiwa
Menghiasi hidup indahkan masa
Luluhkan dengki menghapuskan benci
Kala cahya-Nya membuka mata yang terlena
Sadarkan dari nafsu akan dunia
Rasa yang fana dan maya semata
Reff :
Kan ku ungkap rasa yang terindah
Tentang berkembangnya cinta
Yang semerbak wangi dalam jiwa
Yang kekal abadi s'lamanya
Hanyalah untuk Allah
Kan ku persembahkan
Cinta yang tertinggi dan termurni
Yang tumbuh dalam nurani
Hanyalah untuk Allah
S'lalu ku sandarkan
Segala pengharapan dan do'a
Beri daku cahya-Mu
baru di publish sekarang.
nyeheheh
entah kenapa, kemarin saat perjalanan menuju daarut tauhiid, Bandung, mata saya berkaca-kaca saat mendengar lagu Persembahan Cinta yg dinyanyikan Gradasi. Saya jg gatau kenapa. Tapi mendalami liriknya, rasanya maluu sekali. Malu karena tiap jatuh cinta pada lawan jenis, sepertinya saya tidak mengikutsertakan Allah di dalamnya. Padahal kan,kalo boleh dibilang, Dia-lah sumber cinta yg muncul dalam diri manusia, yg memegang hati manusia, yg memfitrahi manusia dg perasaan yg berjuta rasanya itu.
Hmm, terlalu sibuk dengan manusia-nya, sampai lupa bahwa ada yang menguasai manusia lebih dari segalanya :')
Gradasi - Persembahan Cinta
Disaat cinta menyemai rasa di jiwa
Menghiasi hidup indahkan masa
Luluhkan dengki menghapuskan benci
Kala cahya-Nya membuka mata yang terlena
Sadarkan dari nafsu akan dunia
Rasa yang fana dan maya semata
Reff :
Kan ku ungkap rasa yang terindah
Tentang berkembangnya cinta
Yang semerbak wangi dalam jiwa
Yang kekal abadi s'lamanya
Hanyalah untuk Allah
Kan ku persembahkan
Cinta yang tertinggi dan termurni
Yang tumbuh dalam nurani
Hanyalah untuk Allah
S'lalu ku sandarkan
Segala pengharapan dan do'a
Beri daku cahya-Mu
Labels:
ini aku
Wednesday, August 24, 2011
A Poem that I adore so much (beside "dalam doaku")
Hujan Bulan Juni
Aku Ingin
-Sapardi Djoko Damono-
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
-Sapardi Djoko Damono-
Labels:
ini aku
Subscribe to:
Posts (Atom)