Dalam Doaku
(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”)
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
semangat menata hati dan perasaan :) #selftalk
Tuesday, August 23, 2011
Thursday, August 11, 2011
#thinkrandom
kalo dipikir-pikir, saya amat sangat beruntung mendapat jatah magang di bulan puasa.
setidaknya saya mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat, kan?
alhamdulillah :)
*kalo di rumah mah bawaannya tidur, gogoleran dan fesbukan :p
setidaknya saya mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat, kan?
alhamdulillah :)
*kalo di rumah mah bawaannya tidur, gogoleran dan fesbukan :p
Labels:
ini aku
magang @mandiga #2: random
err.karena belom selesai magang, saya putuskan untuk menunda postingan ttg anak-anak mandiga karenaa saya belom melihat keunikan semua siswanya :D
#1
"Bu Ais, tolong awasi A yah, biasanya dia pipis dulu sebelum masuk kelas" kata Bu Siti menunjuk ke siswa yang baru saja datang. Oh oke, pagi ini saya mengawali magang dengan menemani siswa pipiis. Baiklah. Saya pun menghampiri anak itu. Oh iya, fyi anak itu laki-laki ya. heheh
Berikut adalah percakapan antara saya (S) dan si Anak (A)
A: (beranjak menuju wc, membuka celana.)
Eww, saya melihat "sesuatu" yang terakhir kali saya lihat punya sepupu saya
Loh, loh tapi dia kok ga pegang "anu" nya lalu mengarahkannya ke lobang WC sih??
(biasanya saya melihat kakak dan adik saya kalo pipis seperti itu soalnya. Saya liatnya waktu kecil yaa.ehehehe)
Waduuh, cilaka 13 inih. bisa ngapret kemana-mana air pipisnya. Masa iya mau saya pegang terus saya arahkan? Pegang dengan tangan saya? Ewww.Agak segan juga, itu barang yang amat pribadi soalnya.
Akhirnya, dia pun pipis, dan benar saja, air pipisnya ngapret kemana-mana. aduuh,kasian kan kalo yang mau pipis berikutnya.akhir cerita, saya bersihkan sebersih-bersihnya kamar mandi itu.huhuhuhuu
#2
Yay! akhirnya tiba juga giliran observasi kelas. Mata pelajaran hari ini adalah aplikasi. Kegiatannya, para siswa berperan sebagai "ibu-ibu" (siswi deng, karena yang saya observasi kelas siang dimana semua muridnya adalah perempuan. sebaliknya dengan kelas pagi *di mandiga ada kelas pagi dan kelas siang*) sedangkan guru berperan sebagai petugas kelurahan. Ceritanya "ibu-ibu" ini sedang antri untuk membuat KTP. Mereka diminta menulis nama, tanggal dan sekolah. Sulit bagi saya untuk menggambarkan kejadian waktu itu lewat kata-kata. Yang jelas, menyenangkan sekali mengobservasi kegiatan ini. Apalagi siswi yang bernama Aini. Waaw, dia favorit saya. Suaranya lembuut sekali. ekspresinya juga suka lucu :D anak-anak ini serius sekali (beberapa sih) berperan sebagai ibu-ibu. Salut deh sama sekolah mandiga, pelajarannya dibungkus sedemikian rupa sehingga (menurut saya) tidak membosankan :D
#3
pada suatu hari, saya diminta mengawasi dan mengingatkan Dio, salah satu siswa mandiga, untuk segera membereskan bekas makannya. Saat saya ingatkan: "Dio, ayo segera dibereskan bekas makannya", ia berusaha meraih tangan saya. Ternyata dia mengajak saya untuk tos jempol, dimana ia menyentuhkan jempolnya ke jempol saya. Lalu dengan segera dia membereskan bekas makannya. Ah Diooo, kamu ada-ada aja deh :D
#4
Selesai memakai komputer sekolah, ternyata ada anak yang sedari tadi mengawasi saya. Ya, dia mau main games di komputer. Begitu saya meninggalkan komputer, ia segera menghampiri komputer lalu memainkan games. Namun sayang, baru sebentar menyentuh keyboard komputer, ia dipanggil mamanya untuk terapi. Tentu saja ia mengeluh, menolak meninggalkan komputer. Ibunya pun mengancam bahwa ia boleh bermain komputer itu, tapi tidak diijinkan bermain laptop di rumah. O ow, tentu saja anak itu patuh ("okey mom, okee.aku selesai nih"). ia menghampiri ibunya, namun tak lama ia kembali menuju komputer. Tentu saja sang ibu mengeluarkan ancamannya lagi. Anak itu lalu menghampiri saya "Tuh kan, gara-gara kamu sih (dia menuduh saya sbg penyebab dia tak sempat main komputer.DOH!) ... (lalu dia tampak berpikir, mencoba menyebut nama saya yang tentu saja belum dia tahu).... si pipi chubby!!" WHAT? seumur idup baru ada nih bocah yang manggil saya begitu. Padahal dia gendut dan CHUBBY juga pipinya -___-a
Labels:
ini aku
Monday, August 8, 2011
“Innamal a'maalu bin niyat”.
Semua amalan, tergantung niatnya
kira-kira begitulah arti dari kalimat judul itu.
Hmm, entahlah. Semoga semangat yg saya rasakan saat ini benar-benar pure karena memang saya antusias memelajari hal yang baru saja diamanahkan kepada saya.
Saya agak tersentak membaca tweet seorang teman yg ditujukan pada saya.
Tweet itu seakan mengatakan bahwa ada motif lain yang menyebabkan saya bersemangat.
Ah, apa benar saya se'cemen' itu?
Jujur, saya agak sedih membacanya.
Jangan-jangan sebenarnya tweet itu benar, bahwa motif lain itu yang membuat saya se-semangat ini?
Allah, engkau yang maha tahu
Aku tidak mau se-rendah itu, mengerjakan kebaikan hanya untuk 'dipandang' orang lain :(
Saya pribadi memang menyukai hal-hal yang "baru", yang asing, yang menuntut saya untuk mengerahkan segala upaya yang saya punya.
"Life begin at the end of the comfort zone". Ya, saya merasa lebih 'hidup' jika keluar dari zona nyaman saya, terpaksa belajar dari nol lagi, menjadi beginner lagi.
Entah kenapa tweet itu bikin saya agak sedih, seakan meragukan semangat yang saya punya ini :( tapi di sisi lain, saya anggap itu sebagai pengingat bahwa saya harus meluruskan niat.
Yaudahlah ya aisyah ibadi, just do ur best, hanya Allah yang Maha Tahu dan bisa mengenal isi hati hambaNya. Bismillah. Luruskan niat. SEMANGKAAA, SEMANGAT KAKAAA!
kira-kira begitulah arti dari kalimat judul itu.
Hmm, entahlah. Semoga semangat yg saya rasakan saat ini benar-benar pure karena memang saya antusias memelajari hal yang baru saja diamanahkan kepada saya.
Saya agak tersentak membaca tweet seorang teman yg ditujukan pada saya.
Tweet itu seakan mengatakan bahwa ada motif lain yang menyebabkan saya bersemangat.
Ah, apa benar saya se'cemen' itu?
Jujur, saya agak sedih membacanya.
Jangan-jangan sebenarnya tweet itu benar, bahwa motif lain itu yang membuat saya se-semangat ini?
Allah, engkau yang maha tahu
Aku tidak mau se-rendah itu, mengerjakan kebaikan hanya untuk 'dipandang' orang lain :(
Saya pribadi memang menyukai hal-hal yang "baru", yang asing, yang menuntut saya untuk mengerahkan segala upaya yang saya punya.
"Life begin at the end of the comfort zone". Ya, saya merasa lebih 'hidup' jika keluar dari zona nyaman saya, terpaksa belajar dari nol lagi, menjadi beginner lagi.
Entah kenapa tweet itu bikin saya agak sedih, seakan meragukan semangat yang saya punya ini :( tapi di sisi lain, saya anggap itu sebagai pengingat bahwa saya harus meluruskan niat.
Yaudahlah ya aisyah ibadi, just do ur best, hanya Allah yang Maha Tahu dan bisa mengenal isi hati hambaNya. Bismillah. Luruskan niat. SEMANGKAAA, SEMANGAT KAKAAA!
Labels:
ini aku
Sunday, August 7, 2011
Magang @ Mandiga #1
Mandiga adalah sebuah nama sekolah khusus bagi anak-anak autis
Alamatnya di Jalan Mulawarman No.3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Pertama kali tau bahwa saya ditempatkan magang di sana, saya excited banget.
Yap, saya pribadi memang amat sangat berminat mendalami dunia anak-anak special needs, termasuk autis.
Yang saya ingat, begitu mendengar kabar tersebut, saya langsung googling alamat sekolah itu. Dan dari hasil googling itu, saya menemukan bahwa mandiga itu singkatan dari mandiri dan bahagia. Aww, it really touch my heart :')
Dua kombinasi kata itu - mandiri dan bahagia- terdengar indah banget :)
Terlebih saat magang, saya melihat anak-anak itu nampak mandiri: makan sendiri, meletakkan barang kepunyaan di tempatnya, dll. Mungkin bagi kita, orang dewasa, hal ini terlihat sepele. Namun jika anda sempat membaca mengenai anak berkebutuhan khusus, mereka lebih sulit untuk diajarkan fungsi adaptif (seperti makan, merawat diri: gosok gigi,mandi,dll) dibanding anak-anak pada umumnya).
Dan mereka nampak BAHAGIA
Mungkin saya terlalu cepat mengambil kesimpulan ini, tapi itulah yang saya rasakan dari beberapa hari magang di Mandiga.
Mungkin juga hal ini dikarenakan saya lebih sering mendengar cerita-cerita sedih tentang bagaimana anak berkebutuhan khusus diperlakukan tidak adil oleh lingkungan mereka: diejek, ditertawakan, bahkan ada yang menganggap gila , hanya karena mereka BERBEDA
*Allah, masih membekas dalam benak saya wajah seorang ibu dari anak dengan retardasi mental ringan, berkaca-kaca menceritakan bagaimana anaknya di-bully oleh tetangganya :''(. Itulah sebabnya saya sangat ingin mendalami dunia special needs ini, ingin sekali membuat sekolah untuk mereka, menghapus perilaku-perilaku yang mendiskriminasi anak-anak itu, membuat mereka menjadi anak-anak yang mandiri dan bahagia :)
Tapi di sekolah ini, melihat anak-anak luar biasa ini diperlakukan dengan baik, saya merasa pastilah anak-anak itu merasa bahagia. Setidaknya bertolak belakang dengan cerita-cerita sedih yang sering saya dengar.
Dari hasil ngobrol dengan guru-guru di sana, saya "sedikit" tahu sejarah anak-anak di sekolah itu. Ada yang dulu, ketika pertama kali datang sama sekali penyendiri, menangis di pojokan, tantrum sampai membuka pakaiannya sendiri. Sekarang? wah, mereka sudah bisa berkomunikasi dengan cukup baik, meski terkadang pelafalannya kurang jelas. Ada yang sudah bersekolah di sekolah biasa. Saya yang mendengar dan melihat kenyataannya saja merasa bahagia, apalagi para guru yang sejak dahulu membimbing siswa/i itu sampai sekarang ya? pasti amat sangat bahagia melihat anak didiknya mengalami perkembangan yang baik :D
Anak-anak di Mandiga, kehadirannya bagaikan "tonik" di tengah-tengah pekerjaan administratif yang "cukup" membuat saya nguap berkali-kali (kecuali saat menjahit alat peraga dari kain flanel.hehehehe)
Sungguh, tingkah laku mereka lucu-lucu dan bikin meltiiing :D :D
Mau tau seperti apa mereka dan tingkah laku "ajaib" mereka? tunggu ya di:
Magang @ Mandiga #2.hehehe
Alamatnya di Jalan Mulawarman No.3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Pertama kali tau bahwa saya ditempatkan magang di sana, saya excited banget.
Yap, saya pribadi memang amat sangat berminat mendalami dunia anak-anak special needs, termasuk autis.
Yang saya ingat, begitu mendengar kabar tersebut, saya langsung googling alamat sekolah itu. Dan dari hasil googling itu, saya menemukan bahwa mandiga itu singkatan dari mandiri dan bahagia. Aww, it really touch my heart :')
Dua kombinasi kata itu - mandiri dan bahagia- terdengar indah banget :)
Terlebih saat magang, saya melihat anak-anak itu nampak mandiri: makan sendiri, meletakkan barang kepunyaan di tempatnya, dll. Mungkin bagi kita, orang dewasa, hal ini terlihat sepele. Namun jika anda sempat membaca mengenai anak berkebutuhan khusus, mereka lebih sulit untuk diajarkan fungsi adaptif (seperti makan, merawat diri: gosok gigi,mandi,dll) dibanding anak-anak pada umumnya).
Dan mereka nampak BAHAGIA
Mungkin saya terlalu cepat mengambil kesimpulan ini, tapi itulah yang saya rasakan dari beberapa hari magang di Mandiga.
Mungkin juga hal ini dikarenakan saya lebih sering mendengar cerita-cerita sedih tentang bagaimana anak berkebutuhan khusus diperlakukan tidak adil oleh lingkungan mereka: diejek, ditertawakan, bahkan ada yang menganggap gila , hanya karena mereka BERBEDA
*Allah, masih membekas dalam benak saya wajah seorang ibu dari anak dengan retardasi mental ringan, berkaca-kaca menceritakan bagaimana anaknya di-bully oleh tetangganya :''(. Itulah sebabnya saya sangat ingin mendalami dunia special needs ini, ingin sekali membuat sekolah untuk mereka, menghapus perilaku-perilaku yang mendiskriminasi anak-anak itu, membuat mereka menjadi anak-anak yang mandiri dan bahagia :)
Tapi di sekolah ini, melihat anak-anak luar biasa ini diperlakukan dengan baik, saya merasa pastilah anak-anak itu merasa bahagia. Setidaknya bertolak belakang dengan cerita-cerita sedih yang sering saya dengar.
Dari hasil ngobrol dengan guru-guru di sana, saya "sedikit" tahu sejarah anak-anak di sekolah itu. Ada yang dulu, ketika pertama kali datang sama sekali penyendiri, menangis di pojokan, tantrum sampai membuka pakaiannya sendiri. Sekarang? wah, mereka sudah bisa berkomunikasi dengan cukup baik, meski terkadang pelafalannya kurang jelas. Ada yang sudah bersekolah di sekolah biasa. Saya yang mendengar dan melihat kenyataannya saja merasa bahagia, apalagi para guru yang sejak dahulu membimbing siswa/i itu sampai sekarang ya? pasti amat sangat bahagia melihat anak didiknya mengalami perkembangan yang baik :D
Anak-anak di Mandiga, kehadirannya bagaikan "tonik" di tengah-tengah pekerjaan administratif yang "cukup" membuat saya nguap berkali-kali (kecuali saat menjahit alat peraga dari kain flanel.hehehehe)
Sungguh, tingkah laku mereka lucu-lucu dan bikin meltiiing :D :D
Mau tau seperti apa mereka dan tingkah laku "ajaib" mereka? tunggu ya di:
Magang @ Mandiga #2.hehehe
Labels:
ini aku
Subscribe to:
Posts (Atom)